Dengue Hemorargic Fever


Demam Berdarah Dengue

 

Latar Belakang

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan penyebarannya terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD ditemukan di daerah tropik dan subtropik, mengenai 50-100 juta orang per tahun. Lebih dari dua per lima populasi dunia tinggal di daerah yang beresiko tinggi infeksi DBD. Di Asia Tenggara angka kematian mencapaai 5 % dengan jumlah kematian mencapai 25.000 per tahun.(Cussi dkk,2005; WHO, 2003)

DBD masih menjadi masalah kesehatan yang penting di masyarakat karena sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mengobati penyakit ini, sehingga penanggulangan DBD lebih diarahkan pada pengendalian vektornya yaitu nyamuk Aedes spp. Salah satu cara pemberantasan vektor DBD adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk atau tempat perindukan vektor.Tempat perindukan bagi Aedes spp. seperti tempayan atau gentong, tempat penyimpanan air minum, bak mandi, jambangan atau pot bunga, kaleng-kaleng, botol, drum dan ban mobil yang terdapat di halaman rumah dan berisi air hujan, selain itu dapat juga ditemukan tempat perindukan alamiah seperti kelopak daun tanaman seperti daun keladi dan pisang, tempurung kelapa, tonggak bambu dan lubang pohon yang berisi air hujan.(Depkes RI, 1997; Hasyimi dkk, 1994; Saleha, 2005; Sumarno, 1983)

Letusan DBD pertama kali di Indonesia terjadi tahun 1968,kemudian jumlah penderita semakin meningkat dan penyebarannya pun semakin luas seiring meningkatnya penyebaran penduduk dan transportasi yang semakin lancar. Januari hingga Maret  2004 Kejadian Luar Biasa DBD di Indonesia telah menimbulkan 39.938 kasus dengan 498 kematian atau Case Fatality Rate (CFR) 1,3 %. Dibandingkan KLB 1997 dengan CFR 2,2 % dan tahun 1998 dengan CFR 1,9 %, KLB tahun 2004 memiliki CFR yang lebih baik.(Cussi dkk, 2005; Santoso, 2004)

 

Definisi

Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.1,2  

Epidemiologi

Epidemiologi Dengue pertama kali dilaporkan di Batavia oleh David Bylon pada tahun 1779. Demam berdarah dengue di Indonesia, pertama kali berjangkit di Surabaya pada tahun 1968, dan kepastian virologiknya diperoleh pada tahun 1970.(Hendarwanto, 1987). Di Jakarta laporan pertama di ajukan pada tahun 1969. Dari tahun 1968 sampai tahun 1972, kasus hanya dilaporkan di pulau Jawa. Epidemi di luar pulau Jawa dilaporkan tahun 1972 (Sumatera Barat dan Lampung), 1973 (Riau, Sulawesi Utara dan Bali), 1974 (Kalimantan Selatan, NTB).( Sumarno, 1983 )

Wabah DBD sejak 1968 cendrung meningkat dan tempat penyebarannya pun semakin luas. Sejak tahun 1973 demam berdarah menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat. Hal ini terjadi karena virus penular maupun vektor tersebar luas di seluruh pelosok tanah air dan terus ada sepanjang tahun dengan peningkatan kepadatan populasi di musim hujan. Jumlah kasus dari tahun ke tahun memperlihatkan pola kenaikan 5 tahunan, dimulai dari tahun 1968,1973,1983 dan tahun 1988 dengan sekitar 50.000 kasus. Kenaikan tersebut dapat disebabkan oleh penurunan kekebalan setiap 5 tahun, atau akibat mutasi virus setiap 5 tahun sehingga muncul strain baru yang virulen, atau karena peningkatan laporan (Surveilance).( Hadi, 2004 )

KLB terbesar terjadi pada tahun 1998 denga Insidence Rate (IR) 35,19 per 100.000 penduduk dengan Case Fatality Rate(CFR) 2 %. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17 %, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat 15,99 % tahun 2000; 21,66 % tahun 2001 dan 19,24 % pada tahun 2002.(Pranoto dkk, 1994)

 

Etiologi

Demam berdarah dengue Demam berdarah dengue merupakan suatu penyakit infeksi arbovirus (arthropod-borne virus) akut yang disebabkan oleh virus dengue yang termasuk kelompok Arbovirus B dan ditularkan oleh nyamuk spesies Aedes. Di Indonesia dikenal 2 jenis nyamuk Aedes yaitu : Aedes aegypti dan Aedes albopictus.1,2,3

Sampai saat ini ada 4 jenis serotipe virus dengue yang tidak saling mempunyai imunitas silang yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Di Indonesia, demam berdarah dengue terutama disebabkan oleh DEN-3, walaupun akhir-akhir ini ada kecenderungan dominasi oleh virus DEN-2. 1,2,3

 

Cara Penularan Virus Dengue

Virus Dengue menginfeksi manusia, primata yang lebih rendah, dan nyamuk. Penularan virus dengue terjadi dengan beberapa cara, yaitu : transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk, virus ditularkan melalui telurnya, kontak seksual antara nyamuk dan melalui gigitan nyamuk pada manusia. Nyamuk betina dewasa biasanya akan terinfeksi virus apabila dia menghisap darah seeorang yang dalam fase demam akut. Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik selam 8 – 10 hari maka kelenjar ludah nyamuk akan terinfeksi. Bila nyamuk itu menggigit orang maka cairan ludahnya akan masuk kedalam tubuh orang tersebut. Virus Dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk dari manusia ke manusia lainnya. Virus memasuki tubuh manusia dengan menembus kulit manusia akan menjadi sumber penularan apabila dalam tubuhnya terdapat virus.( Kristina dkk, 2004 )

Dengue tidak di tranmisikan melalui kontak antara manusia, virus tidak bisa menyebabkan infeksi melalui kulit utuh maupun kulit yang rusak.( Shattuck, 1951 )

Menurut WHO siklus penularan demam berdarah itu meliputi :

  1. Vektor adalah Ae.aegypti dan spesies Aedes yang lainnya.
  2. Periode inkubasi ekstrinsik selama 8-10 hari.
  3. Infeksi virus Dengue pada manusia dari gigitan nyamuk.
  4. Inkubasi instrinsik selama 3-10 hari (rata-rata 4-6 hari)
  5. Viraemia tampak sebelum awal munculnya gejala dan  berlangsung selama kurang lebih lima hari pada awal timbulnya penyakit.
  6. Pola penularan vertikal kemungkinan merupakan hal yang penting bagi virus untuk mempertahankan hidup namun tidak ada siklus KLB (Kejadian Luas Biasa) atau wabah.( WHO, 2003 )

Patogenesis

 

Mekanisme sebenarnya tentang patogenesis, patofisiologi, hemodinamika dan perubahan biokimia pada DHF/DSS hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Sebagian besar ahli masih menganut The Secondary Heterologous Infection Hypothesis atau The Sequential Infection Hypothesis yaitu bahwa demam berdarah dengue dapat terjadi apabila seseorang setelah terinfeksi dengan virus dengue pertama kali mendapat infeksi ulangan dengan tipe virus dengue yang berlainan.

Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan The Secondary Heterologous Infection Hypothesis yaitu akibat infeksi kedua oleh tipe virus yang berlainan pada seorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, akan terbentuk kompleks virus antibodi yang selanjutnya :

  • akan mengaktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoksin C3a dan C5a. C5a menyebabkan meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding tersebut.
  • menimbulkan agregasi trombosit sehingga mengakibatkan trombosit kehilangan fungsi dan mengalami metamorfosis dan dimusnahkan oleh sistem RE dengan akibat terjadinya trombositopenia hebat dan perdarahan.
  • terjadi aktivasi faktor Hageman ( factor XII ) yang selanjutnya juga mengaktivasi sistem koagulasi dengan akibat terjadinya pembekuan intravaskular yang meluas. Disamping itu aktivasi factor XII akan menggiatkan sistem kinin yang berperan dalam meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya faktor koagulasi dan kerusakan hati akan menambah beratnya perdarahan.1,3

 

Aspek Klinik Demam Berdarah

Virus Dengue memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama lebih kurang empat hari, virus melakukan replikasi yang cepat dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia), dan pada saat itu manusia akan mengalami gejala infeksi dan panas. Bentuk reaksi yang terjadi pada satu individu adalah berbeda antara satu dengan yang lainnya, perbedaan ini akan memanifestasikan gejala klinis dan perjalanan-perjalanan penyakit. Pada prinsipnya bentuk reaksi tubuh manusia terhadap virus Dengue adalah sebagai berikut :

  1. Pada reaksi pertama : terjadi netralisasi virus dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil dikulit berupa gejala ruam (rash).
  2. Pada reaksi kedua : terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan.
  3. Pada reaksi ketiga : terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma darah dari pembuluh menuju rongga perut berupa gejala asites dan rongga pleura berupa gejala efusi pleura. Apabila tubuh manusia mengalami reaksi 1 dan 2 saja, disebut demam Dengue dan apabila ia mengalami reaksi ketiga, disebut Demam Berdarah Dengue (DBD).( Widodo, 2005 )

 

Manifestasi Klinik

Demam berdarah dengue ditandai oleh 4 manifestasi klinis, yaitu:5,6

1.   Demam

Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus-menerus, berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada demam berdarah dengue, karena fase tersebut dapat merupakan awal penyembuhan tetapi dapat pula sebagai awal syok.

  1. Manifestasi perdarahan

Penyebab perdarahan adalah vaskulopati, trombositopenia dan gangguan fungsi trombosit. Jenis perdarahan yang terbanyak adalah ptekie, purpura, ekimosis, dan perdarahan konjungtiva. Perdarahan lain yaitu epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan melena. Perdarahan yang paling ringan ditandai dengan uji torniquet positif.

  1. Hepatomegali

Pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit.

  1. Tanda-tanda kegagalan sirkulasi

Gangguan sirkulasi ditandai dengan demam disertai keluarnya keringat, perubahan denyut nadi dan tekanan darah, akral ekstremitas teraba dingin disertai kongesti kulit

 

 

 

 

 

Klasifikasi

Menurut WHO (1975) demam berdarah dengue dibagi atas : 2,4,7

Derajat I

Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet.

Derajat II

Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan/perdarahan lain.

Derajat III

Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (£20 mmHg) atau hipotensi, sianosis sekitar mulut, kulit dingin dan lembab serta penderita tampak gelisah.

Derajat IV

Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur.

 

Diagnosis

Kriteria diagnosis menurut WHO adalah sebagai berikut:1,3,5

1. Kriteria klinis

a. Demam tinggi mendadak, terus-menerus selama 2-7 hari.

b. Manifestasi perdarahan ditandai satu atau lebih keadaan berikut:

  • uji torniquet positif
  • ptekie, purpura, ekimosis
  • perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
  • hematemesis dan melena

 

 

c.  Hepatomegali

d. Syok yang ditandai nadi cepat dan lemah disertai penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.

2. Kriteria Laboratorium

a. Trombositopenia ( trombosit £ 100.000/mm3)

b. Hemokonsentrasi ( peningkatan hematokrit ³ 20%)

Diagnosis ditegakkan bila terdapat dua kriteria klinis ditambah satu kriteria laboratorium. Pada kasus syok, peningkatan hematokrit dan adanya trombositopenia mendukung diagnosis demam berdarah dengue.

 

Penatalaksanaan

            Bagian terpenting dari pengobatan demam berdarah dengue ini adalah terapi suportif yang terutama ditujukan untuk mengatasi perdarahan, mencegah/ mengatasi keadaan syok/ presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum. Penderita disarankan untuk menjaga penyerapan makanan, terutama dalam bentuk cairan. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, penambahan dengan cairan intravena (infus) mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Demam diusahakan diturunkan dengan kompres dingin, atau pemberian antipiretika. 1,3,7

 

 

 

 

 

 

Terapi pada penyakit ini meliputi :

1. Tindakan umum

v  Pemantauan secara teratur dan berkala keadaan umum, tanda hipotensi,nadi, nafas dan tekanan darah.

v  Pengawasan terhadap hematokrit dan trombosit tiap 4-6 jam pada hari pertama dan selanjutnya tiap 24 jam.

2. DBD tanpa renjatan

v  Pemberian infus Dextrose 5%-1/2 NaCl 0,9% sesuai kebutuhan rumatan.

v  Makan dan terutama banyak minum

3. Sindrom Renjatan Dengue

v  Pemberian infus Dextrose 5%-1/2 NaCl 0,9%, jika renjatan terus berlangsung beri koloid (Dekstran 40) dengan jumlah 10-20/kgB/jam

v  Periksa Hb, Ht, leukosit, hitung jenis, trombosit

Mengingat bahwa kebocoran plasma dapat berlangsung 24-48 jam, maka pemberian cairan intravena dipertahankan walaupun tanda-tanda vital telah menunjukkan perbaikan nyata. Hematokrit  merupakan indeks yang dapat dipercaya dalam menentukan kebocoran plasma, oleh karena itu pemeriksaan

hematokrit perlu dilakukan secara periodik. Kecepatan pemberian cairan selanjutnya disesuaikan dengan gejala klinis vital dan nilai hematokrit. 2,4,6

 

 

 

LAPORAN KASUS

 

Identitas Pasien

Nama               : O

Umur               : 11 tahun 9 bulan

Jenis Kelamin  : laki -laki

Suku bangsa     : Minangkabau

Alamat              : Tanjung sabar, lubuk begalung, Padang

 

Anamnesis (Alloanamnesis diberikan oleh ibu kandung)

Seorang pasien laki -laki usia 11 tahun 9 bulan dirawat di bangsal anak RS. Dr.M. Djamil Padang sejak tanggal 4 Agustus 2007 jam 12.30 dengan :

 

 

Keluhan utama          :

Demam sejak 4 hari yang lalu.

 

Riwayat Penyakit Sekarang :

  • Demam sejak 4 hari yang lalu mendadak, tinggi, terus-menerus, tidak kejang, tidak berkeringat dan tidak menggigil.
  • Dingin pada ujung jari tangan dan kaki sejak 2 jam yang lalu makin lama makin dingin.
  • Perdarahan spontan pada gusi dan saluran cerna tidak ada.
  • Batuk pilek tidak ada.
  • Sesak nafas tidak ada
  • Mual dan muntah tidak ada
  • Nyeri di ulu hati tidak ada.
  • Buang air kecil terakhir 6 jam yang lalu jumlahnya sedikit dan warnanya lebih pekat dari biasanya.
  • Buang air besar jumlah dan warnanya biasa
  • Sudah dibawa berobat ke mantri tapi tidak membaik, kemudian dibawa ke poliklinik Anak RS.dr.M.Djamil Padang.

 

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak pernah menderita demam berdarah dan riwayat perdarahan spontan

 

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang sedang menderita penyakit seperti ini.

Tidak ada tetangga yang sedang menderita penyakit seperti ini.

Riwayat Kehamilan ibu :

 

Selama hamil tidak pernah menderita penyakit berat, memeriksa kehamilan teratur ke bidan, mendapat suntikan TT 2 kali, tidak pernah minum obat-obatan atau jamu, tidak pernah mendapat penyinaran, hamil cukup bulan

 

Riwayat Kelahiran :

Lahir Spontan, cukup bulan, langsung menangis, ditolong bidan, berat badan lahir 3600 gram, panjang badan lahir lupa, tidak ada riwayat biru atau kuning waktu lahir.

 

Riwayat makanan dan minuman :

  • Bayi     :           ASI                 : umur 0-15 bulan

Pasi                  : umur 2 bulan – 5 tahun

Buah biskuit    : 17 bulan – sekarang

Nasi tim           : lupa, frekuensi 3 x/hari.

  • Anak   :           Makanan utama : nasi 1 piring sebanyak 3 kali per hari

Daging                        : + 2x/minggu

Ikan                 : +7x/minggu

Telur                : +7x/minggu

Sayur mayur    : jarang

Kesan : kualitas dan kuantitas cukup

 

Riwayat Imunisasi :

BCG                : Umur 1 bulan, scar (-)

DPT                 : Umur 2,3,4 bulan

Polio                : Umur 1,2,3 bulan

Hepatitis B      : Umur 1,2 bulan dan 6 tahun

Campak           : 9 bulan

Kesan : Imunisasi dasar lengkap

Riwayat Sosio Ekonomi :

Pasien anak pertama dari 2 bersaudara. Ayah sudah meninggal, tamat SMP. Ibu 34 tahun, tamat D2, guru SD.

Riwayat Perumahan dan Lingkungan :

Rumah permanen, sumber air minum sumur gali, buang air besar di WC di dalam rumah, pekarangan tidak luas, sampah dibakar.

Kesan : higiene dan sanitasi lingkungan cukup

 

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :


Perkembangan fisik

Tengkurap       : 3 bulan

Duduk             : 6 bulan

Merangkak      : 7 bulan

Berdiri             : 9 bulan

Berjalan           : 11 bulan

Gigi pertama   :  9 bulan

Bicara              : 9 bulan

Perkembangan mental

Isap jempol      : (-)

Gigit kuku       : (-)

Mengompol     : s/d umur 3 tahun

Apati               : (-)

Sering mimpi   : (-)

Aktif sekali     : (-)

Membangkang            : (-)

 

Kesan              : Perkembangan fisik dan mental normal

Pemeriksaan Fisik :

Tanda Vital :

Keadaan umum           : tampak sakit berat

Kesadaran                   : sadar

Tekanan darah            : 60 mmHg (palpasi)

Nadi                            : Cepat dan halus

Frekuensi nafas           : 35 x/menit

Suhu                            : 37 oC

Berat Badan                : 38 kg

Tinggi Badan              : 142 cm

Status gizi                   : BB/U             =    97,4%

TB/U             =    96,0%

BB/TB          =    105,5%

à Kesan : Status gizi baik

Pemeriksaan Sistemik :

Kulit                :     Teraba dingin pada ujung jari kaki dan tangan, sianosis tidak ada,  ikterik tidak ada, ptekhi di lengan kanan setelah di lakukan rumple leed (+),.

Kepala             :     Bentuk bulat, simetris, tidak ada deformitas, rambut hitam, tidak mudah dicabut.

Mata                :     konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor dengan diameter 2 mm, refleks cahaya +/+ normal

Telinga            :     Tidak ditemukan kelainan

Hidung            :     Tidak ditemukan kelainan

Mulut              :     Mukosa mulut dan bibir kering

Tenggorokan   :     Tonsil T1-T1 tidak hiperemis

Faring tidak hiperemis

Leher               :     KGB tidak membesar

Thorax

Paru

Inspeksi         : normochest, gerakan simetris kiri = kanan

Palpasi           : fremitus normal kiri = kanan

Perkusi          : sonor kiri dan kanan

Auskultasi     : vesikuler, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada

 

Jantung

Inspeksi         : iktus tidak terlihat

Palpasi           : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V

Perkusi          : batas jantung kiri       : 1 jari medial LMCS RIC V

Kanan  : Linea sternalis dextra

Atas     : RIC II

Auskultasi     : irama teratur, murni, bising tidak ada

Abdomen        :

Inspeksi         : perut sedikit buncit, distensi tidak ada

Palpasi           : Supel, Hepar dan Lien tidak teraba

Perkusi          : tympani

Auskultasi     : bising usus (+) normal

Genitalia          : Status pebertas A1G2P2

Ekstremitas     : akral dingin, refilling kapiler lambat, RF +/+, RP -/-

 

Pemeriksaan Laboratorium :

Darah :Hb                   : 14,9 gr%

Leukosit          : 3400 /mm3

Hematokrit      : 44 %

Trombosit        : 109.000/mm3

Urin : Makroskopik: warna kuning

Mikroskopik : protein (-), reduksi (-), bilirubin (-), urobilin (+)

Feces : Makroskopik : warna kuning, konsistensi lunak, lendir (-),darah (-)

Mikroskopik  :  leukosit (-), eritrosit (-), amuba(-), telur cacing(-),                                                      parasit (-)

Diagnosis        :           DHF Grade III

 

Sikap/

  • O2 : 2L/ menit
  • IVFD RL 20 cc/KgBB/30 menit ~ 380 tts /menit (makro)
  • ML 2000 kkal
  • Banyak minum + 2 L/hari

 

Rencana/

  • Hb – Ht serial
  • Trombosit /hari
  • Balance cairan
  • Kontrol VS

 

Follow up

4 Agustus 2007 pukul 13.00 wib

S/       : Demam tidak ada

Sesak nafas tidak ada

Perdarahan tidak ada

Nyeri di ulu hati tidak ada

O/  Keadaan umum     : tampak sakit berat

Kesadaran             : sadar

Frek nadi               : 89 x/menit

TD                         : 80/50 mmHg

frek nafas              : 24 x/menit

Suhu                      : 36,50C.

Kulit             : ptekhi di lengan kanan, mulai hangat.

Mata              : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Jantung          : irama teratur, bising tidak ada

Paru               : vesikuler , ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada

Abdomen      : distensi tidak ada

Hepar dan Lien tidak teraba

Ekstremitas   : akral mulai hangat, refilling kapiler baik

Kesan : syok sudah teratasi

 

Laboratorium post syok

Hb                      : 12,2 gr%

Leukosit             : 3100

Hematokrit         : 37 %

Trombosit           : 55.000/mm3

Hitung jenis        : 0/0/5/48/37/10

Kesan : tidak terdapat peningkatan hemokonsentrasi

Sikap/

  • IVFD RL 10 cc/KgBB/Jam ~ 95 tts /menit (makro)
  • ML 2000 kkal
  • Banyak minum 2 L/hari

 

Rencana/

  • Hb – Ht serial
  • Trombosit /hari
  • Balance cairan
  • Kontrol VS
Waktu Tekanan Darah Frekuensi Nadi Frekuensi nafas
13.30 100/ 70 mmHg 90 x/menit 34 x/menit
14.00 100/70 mmHg 88 x/menit 30 x/menit
14.30 90/60 mmHg 90 x/menit 28 x/menit
15.00 100/70 mmHg 80 x/menit 30 x/menit
15.30 110/80 mmHg 85 x/menit 25 x/menit
16.30 100/80 mmHg 90 x/menit 28 x/menit
17.30 110/80 mmHg 90 x/menit 32 x/menit

 

4 Agustus 2007 pukul 18.00

S/       : Perdarahan tidak ada

Demam tidak ada

Muntah tidak ada

Sesak nafas tidak ada

Anak mau minum

O/  Keadaan umum     : tampak sakit sedang

Kesadaran             : sadar

Frek nadi               : 88 x/menit

TD                         : 110/70 mmHg

frek nafas              : 24 x/menit

Suhu                      : 36,80C

Kulit             : ptekhi di lengan kanan

Mata              : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Jantung          : irama teratur, bising tidak ada

Paru               : vesikuler , ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada

Abdomen      : distensi tidak ada

Hepar dan Lien tidak teraba

Ekstremitas   : akral hangat, refilling kapiler baik

Laboratorium

Hb                      : 14,4 gr%

Hematokrit         : 44 %

Kesan : tidak terjadi perburukan

Sikap/

  • IVFD RL 10 cc/KgBB/Jam ~ 95 tts /menit (makro)
  • ML 2000 kkal
  • Banyak minum + 2 L/hari

 

Rencana/

  • Hb – Ht serial
  • Trombosit /hari
  • Balance cairan
  • Kontrol VS

Laboratorium

22.00 wib :      Hb                   : 12,9 gr%

Hematokrit      : 39 %

5 Agustus 2007

02.00 wib        Hb                   : 13,1 gr %

Hematokrit      : 40 %

5 Agustus 2007 pukul 07.00 wib

S/       : Perdarahan baru tidak ada

Demam tidak ada

Mual muntah tidak ada

Sesak nafas tidak ada

Anak mau minum

O/  Keadaan umum     : tampak sakit sedang

Kesadaran             : sadar.

Frek nadi               : 86 x/menit

TD                         : 110/70 mmHg

frek nafas              : 24 x/menit

Suhu                      : 37 0C

Kulit             : ptekhi di lengan kanan

Mata              : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Jantung          : irama teratur, bising tidak ada

Paru               : vesikuler , ronki tidak ada, wheezing tidak ada

Abdomen      : distensi tidak ada

Hepar dan Lien tidak teraba

Ekstremitas   : akral hangat, refilling kapiler baik

Laboratorium

Hb                      : 12,2 gr%

Hematokrit         : 37 %

Trombosit           : 69.000/mm3

Balance cairan    :           Oral     : 1500 cc          Urine   : 1500 cc

Infus    : 2000 cc          IWL    : 740 cc

3500 cc                         2240 cc

Balance : + 1260 cc

Urine : 1,6 cc / kgBB/ Jam

Kesan : tidak ada perburukan

Sikap/

  • IVFD RL 5 cc/KgBB/Jam ~ 46 tts /menit (makro)
  • ML 2000 kkal
  • Banyak minum 2 L/hari

Rencana/

  • Hb – Ht serial
  • Trombosit /hari
  • Balance cairan
  • Kontrol VS
Waktu Tekanan Darah Frekuensi Nadi Frekuensi Nafas
11.30 110/80 mmHg 80 x/menit 25 x/menit
22.00 110/90 mmHg 60 x/menit 25x/menit

 

Laboratorium :

12.00   Hb                   : 12,1 gr%

Hematokrit      : 38%

16.00   Hb                   : 12,9 gr%

Hematokrit      : 38%

22.00   Hb                   : 12,9 gr%

Hematokrit      : 39%

6 Agustus 2007 pukul 07.00 wib

S/       : Perdarahan tidak ada

Demam tidak ada

Mual muntah tidak ada

Sesak nafas tidak ada

Anak mau minum

 

O/  Keadaan umum     : tampak sakit sedang

Kesadaran             : sadar.

Frek nadi               : 92 x/menit

TD                         : 110/80 mmHg

frek nafas              : 24 x/menit

Suhu                      : 37 0C.

Kulit             : ptekhi di lengan kanan berkurang

Mata              : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Jantung          : irama teratur, bising tidak ada

Paru               : vesikuler , ronki tidak ada, wheezing tidak ada

Abdomen      : distensi tidak ada

Hepar dan Lien tidak teraba

Ekstremitas   : akral hangat, refilling kapiler baik

Laboratorium

Hb                      : 13,7 gr%

Hematokrit         : 42 %

Kesan :

 

Sikap/

  • IVFD RL 3 cc/KgBB/Jam ~ 35 tts /menit (makro)
  • ML 2000 kkal
  • Banyak minum 2 L/hari

Rencana/

  • Hb – Ht serial
  • Trombosit /hari
  • Balance cairan
  • Kontrol VS

 

7 Agustus 2007 pukul 07.00 wib

S/       : Perdarahan tidak ada

Demam tidak ada

Mual muntah tidak ada

Sesak nafas tidak ada

Anak mau minum

O/  Keadaan umum     : tampak sakit sedang

Kesadaran             : sadar.

Frek nadi               : 88 x/menit

TD                         : 100/60 mmHg

frek nafas              : 24 x/menit

Suhu                      : 37 0C.

Kulit             : ptekhi di lengan kanan berkurang

Mata              : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Jantung          : irama teratur, bising tidak ada

Paru               : vesikuler , ronki tidak ada, wheezing tidak ada

Abdomen      : distensi tidak ada

Hepar dan Lien tidak teraba

Ekstremitas   : akral hangat, refilling kapiler baik

Laboratorium

Hb                      : 13,6 gr%

Hematokrit         : 42 %

Trombosit           : 158.000/mm3

Kesan : perbaikan

Rencana/

  • Pasien boleh pulang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISKUSI

 

Telah dilaporkan seorang pasien perempuan umur 12 tahun dengan diagnosa kerja DHF grade II  dengan intake sulit. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

Dari anamnesis diketahui bahwa keluhan utama pasien adalah keluar darah dari hidung sebelah kanan sejak 12 jam SMRS. Sebelumnya pasien demam selama 5 hari, mendadak, tinggi, terus-menerus, tidak menggigil dan tidak kejang. Muntah sejak 4 hari yang lalu, frekuensi 3-4 x/hari, sebanyak 3 sdm – ¼ gelas, berisi sisa makanan, tidak menyemprot. Nyeri perut sejak 2 hari yang lalu, terutama dirasakan di ulu hati. Tampak bintik-bintik perdarahan di kedua tangan, perut, dan kedua kaki. Keluar darah dari hidung kanan sebanyak 1 sdt, berhenti sendiri selama 10 menit, kemudian perdarahan berulang 1 jam yang lalu sebanyak 50 cc, dan berhenti setelah diberi tampon di IGD RS. dr. M. Djamil Padang.

Dari pemeriksaan fisik pasien tampak sakit sedang, sadar, tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 100 x / menit, nafas 28 x / menit, suhu 36,8 oC, keadaan gizi kurang. Ptekhi di lengan kanan dan kiri, dikedua tungkai dan perut. Darah keluar dari hidung sebelah kanan dan ditutupi tampon yang dipasang di IGD. RS. dr. M. Djamil Padang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium darah didapatkan Hb 13,6 gr%, Ht 39 %, trombosit 29.000 /mm3. Dari data-data tersebut maka dapat disimpulkan diagnosis kerja pasien adalah DHF Grade II dengan intake sulit.

Penatalaksanaan yang dilakukan adalah pemberian IVFD RL 3 cc/ kgBB/ jam, ML 1700 kkal, BC + C 3 x 1 tab, dan dianjurkan banyak minum 2 L/hari. Kemudian diobservasi vital sign, Hb dan Ht serial, dan trombosit. Terapi dan observasi klinis dilanjutkan sampai keadaan umum pasien stabil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  1. Garna H, Hadinegoro SR, Sumarmo. Virus Dengue Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi 1. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI,-2002 : hal 176-208
  2. Rampengan TH, Laurentz IR. Penyakit infeksi tropik pada anak. Jakarta, Penerbit buku kedokteran EGC – 1997 : 90-99
  3. Mansjoer dkk,. Demam Dengue. Dalam Kapita Selekta Kedokteran jilid 2, edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-2002 : 417-26
  4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Indonesia. Infeksi Dengue.Dalam Buku ajar Ilmu keehatan anak, Infeksi dan penyakit tropis edisi I. Jakarta, Balai penerbit FKUI – 2002 : 125-37
  5. Halstead S. Arbovirus. Dalam : Behrman R, Kliegman R, Arvin A, editorWahab AS, editor edisi bahasa Indonesia Ilmu kesehatan anak Nelson volume 2 edisi-15.Jakarta, Penerbit buku kedokteran EGC – 2000 : 1132-5
  6. Sohendro, dkk. Demam berdarah Dengue. Dalam buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3 edisi 4. Jakarta, Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-2006: 1731-3

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s