Pre Eklamsia dan Eklamsia


PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA

 

Preeklampsia dan eklampsia adalah sekelompok penyulit yang terdapat baik pada masa kehamilan, persalinan maupun pada masa nifas, ditandai dengan gejala-gejala ; hipertensi, proteinuria, edema dan kejang. 1,2

Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang dan / atau koma yang timbul bukan akibat kelainan neurologi.1,2,3

 

ETIOLOGI

Penyebab preeklampsia dan eklampsia belum diketahui dengan pasti dan berbagai teori telah dikemukakan tentang penyebab preeklampsia, akan tetapi sampai saat ini belum ada yang dapat menerangkan terjadinya segala aspek dari penyakit ini beserta kaitannya satu sama lain. Zweifel (1916) menamakannya sebagai : “the disease of theories”. 4

Kejadian preeklampsia dilaporkan sekitar 2-8 % pada kehamilan, bagaimanpun keadaan geografi, social ekonomi dan ras berpengaruh terhadap angka kejadian ini. Angka kejadian preeklampsia tertinggi terjadi di negara Zimbabwe, 7,1 % dan angka kejadian eklampsia tertinggi di negara Kolombia, 0,81 % (WHO, 1990-2002). 5 Sedangkan di Indonesia angka kejadian preeklampsia 4,8 % (SKRT, 1992).

Terdapat karakteristik individual dan lingkungan yang berperanan terhadap resiko preeklampsia – eklampsia antara lain:

A. Karakteristik individual

1. Paritas

Primigravida berada dalam resiko terbesar terhadap preeklampsia – eklampsia. 1,2,4,5

Hinselman (1924) mendapatkan eklampsia 74 % pada primigravida. Mauriceau (1964) memperlihatkan primigravida lebih mudah terjadi eklampsia daripada multipara.

2. Umur

Ibu yang berusia muda mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi eklampsia. Chesley (1985) mendapatkan eklampsia terbanyak pada umur 20-25 tahun. Kejadian akan meningkat pada umur 15 tahun dan 35 tahun.  Pada wanita yang berusia muda ini secara psikis belum siap menerima kehamilan, sehingga malu untuk keluar rumah dan juga enggan untuk memeriksakan kehamilannya. Pada ibu yang berusia lanjut mempunyai hubungan erat dengan hipertensi essensial.

3. Riwayat keluarga

Kejadian preeklampsia eklampsia meningkat pada wanita yang mempunyai riwayat preeklampsia eklampsia dalam keluarga. 5

4. Berat badan

Wanita yang mempunyai berat badan yang berlebihan dibandingkan tinggi badannya mempunyai kecenderungan untuk menderita preeklampsia. 1

5. Penyakit yang diderita

Wanita dengan penyakit tertentu seperti penyakit ginjal, diabetes, atau hipertensi laten mempunyai resiko untuk menderita preeklampsia-eklampsia demikian pula pada kehamilan kembar dan mola hidatidosa. 1,2,4,5

 

B. Karakteristik lingkungan

1. Kemiskinan

Mempunyai hubungan erat dengan preeklampsia-eklampsia. Sebagian diantaranya dapat dihubungkan dengan kehamilan yang terjadi pada usia lanjut dan kurangnya pemeliharaan kesehatan. Clemendor et al (1969) melaporkan kejadian yang tinggi pada orang Negro akibat kemiskinan di daerah selatan Amerika Serikat. Chesley (1985) mengatakan tingginya kematian ibu akibat eklampsia pada daerah yang miskin.

2. Gizi

Banyak penelitian melaporkan hubungan nutrisi dengan kejadian preeklampsia-eklampsia. Kumar dan Nath (1940) mendapatkan kejadian eklampsia yang tinggi karena miskinnya kadar nutrisi.

3. Kebudayaan

Diperkirakan adanya hubungan antara corak kebudayaan dengan kehamilan pertama dan multipara pada usia lanjut. Dalam hal ini mungkin mempunyai pengaruh ialah tabu yang menyangkut gizi.

 

Pemeriksaan Antenatal

Di samping dua karakteristik di atas pemeriksaan antenatal memegang peranan penting di dalam terjadinya eklampsia ini. Kejadian eklampsia sangat tinggi pada  kasus yang tidak melakukan pemeriksaan antenatal atau pada kasus yang tidak terdaftar seperti yang dilaporkan oleh Baens et al (1957) di filipina dan Harbert et al (1968) di Amerika Serikat.

 

DIAGNOSIS

Diagnosis preeklampsia ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga (trias) gejala, yaitu penambahan berat badan yang berlebihan, edema, hipertensi dan proteinuria. Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Edema terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Tekanan darah ³ 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau tekanan diastolic > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolic pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklampsia. 1,2,3

Proteinuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2; atau kadar protein ³ 1 g/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. 1,2,3

Disebut preeklampsia berat bila ditemukan gejala berikut:

  • Tekanan darah sistolik ³ 160 mmHg atau diastolic ³ 110 mmHg.
  • Proteinuria + ³ 5 g/24 jam atau ³ 3 pada tes celup.
  • Oliguria (< 400 ml dalam 24 jam).
  • Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan.
  • Nyeri epigastrium dan ikterus.
  • Edema paru atau sianosis.
  • Trombositopenia.
  • Pertumbuhan janin terhambat.

Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala-gejala preeklampsia disertai kejang atau koma. Sedangkan, bila terdapat gejala prekelampsia berat disertai salah satu atau beberapa gejala dari nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan tekanan darah yang progresif, dikatakan pasien tersebut menderita impending eklampsia. Impending eklampsia ditangani sebagai kasus eklampsia. 1,2,3

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • Urin : protein, reduksi, bilirubin, sedimen urin.
  • Darah : trombosit, ureum, kreatinin, SGOT, LDH, dan bilirubin.
  • USG

KOMPLIKASI

Tergantung derajat preeklampsia atau eklampsianya. Yang termasuk komplikasi antara lain atonia uterus (uterus Couvelaire), sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low platelet count) ablasio retina, KID (koagulasi intravaskular diseminata), gagal ginjal, perdarahan otak, edema paru , gagal jantung, hingga syok dan kematian.

Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut atau kronisnya insufisiensi uteroplasental, misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas. 1,2,3

DIAGNOSIS BANDING

  • Kejang, bisa disebabkan ensefalopati hipertensi, epilepsy, tromboemboli, intoksikasi obat, trauma, hipoglikemia, hipokalsemia, atau alkalosis.
  • Koma, bisa disebabkan epilepsy, sinkop, intoksikasi alcohol atau obat, asidosis, hipoglikemia, atau azotemia.

PENCEGAHAN PREEKLAMPSIA

Pada umumnya timbulnya eklampsia dapat dicegah, atau frekuensinya dikurangi. Usaha – usaha untuk menurunkan frekuensi eklampsia seperti ; meningkatkan jumlah balai pemeriksaan antenatal dan mengusahakan agar semua wanita hamil memeriksakan dirinya sejak hamil muda, mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda pre-eklampsia dan mengobatinya segera apabila ditemukan, mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu keatas apabila setelah dirawat tanda-tanda pre-eklampsia tidak juga dapat dihilangkan. 1,2,3,5

 

PENANGANAN PREEKLAMPSIA

Tujuan penanganan :

  1. Mencegah timbulnya preeklampsia berat dan eklampsia.
  2. Lahirkan janin hidup.
  3. Lahirkan janin dengan trauma yang sekecil-kecilnya pada ibu dan anak.

Pada dasarnya penanganan preeklampsia terdiri atas pengobatan medik dan penanganan obstetric. Penanganan obstetric ditujukan untuk melahirkan bayi pada saat optimal. Penilaian kondisi janin pada preeklampsia meliputi :

1. Penilaian pertumbuhan janin

1.1)            Pemantauan pertumbuhan tinggi fundus uteri

1.2)            Pemeriksaan USG

2. Penilaian ancaman gawat janin

2.1) Pemantauan gerakan janin

2.2) Non Stress test and Contraction stress test

2.3) Profil biofisik janin

  • reaksi denyut jantung janin terhadap gerakan janin
  • volume air ketuban
  • gerakan janin
  • gerakan pernafasan janin
  • tonus janin

2.4) Pemeriksaan surfaktan dalam cairan ketuban

2.5) pemeriksaan perfusi plasenta

Penanganan Preeklampsia Ringan

Jika kehamilan < 37 minggu, lakukan penilaian 2 x seminggu secara rawat jalan:

  • Pantau tekanan darah, proteinuria, refleks dan kondisi janin.
  • Lebih banyak istirahat
  • Diet biasa
  • Tak perlu obat-obatan
  • Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat di rumah sakit;

Jika kehamilan > 37 minggu, pertimbangkan untuk terminasi :

  • Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500 cc RL
  • Jika serviks belum matang lakukan SC

Penanganan Preeklampsia Berat

Penanganan preeklampsia berat/eklampsia dapat aktif atau konservatif. Aktif berarti kehamilan diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian pengobatan medicinal. Konservatif berarti kehamilan tetap dipertahankan bersamaan dengan pemberian pengobatan medicinal.

Penanganan Aktif

Penderita harus segera dirawat dan sebaiknya dirawat diruangan khusus di daerah kamar bersalin. Tidak perlu ruangan yang gelap, tetapi ruangan denagn penerangan cukup. Penderita ditangani secara aktif bila didapatkan satu/ lebih keadaan dibawah ini : ibu dengan kehamilan 35 minggu atau lebih, adanya tanda-tanda impending eklampsia, adanya sindrom HELLP, atau kegagalan penanganan konservatif. Atau pada janin ditemukan tanda-tanda gawat janin atau adanya tanda-tanda IUGR.

 

Pengobatan Medisinal

Pengobatan medicinal untuk mencegah timbulnya kejang dapat diberikan:

1. Magnesium Sulfat

Magnesium sulfat diberikan dengan dosis awal 4 gram dalam 250 cc dekstrose 10 %. Dosis pemeliharaan dilanjutkan sebanyak 2 gram/jam. Syarat pemberian magnesium sulfat : refleks patella (+), frekuensi nafas > 16 x/menit, tidak ada tanda-tanda distress pernapasaan, diuresis > 100 cc/ 4jam.

Kadar terapeutik MgSO4 .7H2O USP adalah 4,8 –8,4 mg/dl. Efek utama adalah blokade perifer dari neuromuscular jnction, efek hipotensi ringan dan tokolisis pada persalinan premature.

Sulphas magnesikus dihentikan bila ada tanda-tanda intoksikasi atau 24 jam pasca persalinan atau setelah 6 jam pasca persalinan terdapat perbaikan yang nyata.

Untuk anti dotum magnesium sulfat perlu disediakan kalsium glukonas 10% (1 gr dalam 10cc diberikan i.v dalam 3 menit).

  1. Diazepam 20 mg IM
  2. klorpromazin 50 mg IM

Obat-obatan antihipertensi diberikan bila tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau tekanan diastolic > 110 mmHg. Obat yang dipakai adalah nifedipin dengan dosis 3-4 x 10 mg oral. Bila dalam 2 jam tidak terdapat penurunan tekanan darah dapat diberikan 10 mg lagi.

Obat hipertensi lain yang dapat digunakan adalah klonidin (catapres). Pemberian klonidin apa bila tekanan darah systole > 180 mmHg atau diastole > 120 mmHg. Cara pemberiannya adalah 150 ngr catapres diencerkan dengan 10cc dekstrose 5 %, 75 nmgr diberikan pelan-pelan iv selam 5 menit dan diperiksa tekanan darah setelah pemberian. Bila tak ada penurunan tekanan darah, klonidin sisa 75 ngr tadi dapat diberikan. 1,6

Pengobatan Obstetrik

Cara Terminasi Kehamilan

Bila penderita belum inpartu maka lakukan induksi persalinan dengan amniotomi, oksitosin drip, kateter foley, prostaglandin E2.

SC bila syarat oksitosin drip tak terpenuhi atau adanya kontra indikasi untuk oksitosin drip.

Kala II : dibantu dengan forseps ekstraksi dalam narkose.

Penanganan Konservatif

Pada kehamilan < 35 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik dilakukan penanganan secara konservatif .

Penanganan Medisinal : sama perawatan medicinal pada cara aktif.

Pengobatan Obstetrik : selama perawatan konservatif observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak ada terminasi.

Sulphas magnesikus, selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. Bila dalam 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medicinal dan harus diterminasi. 1,6

 

EKLAMPSIA

Eklampsia didiagnosa jika kejang yang timbul dari hipertensi yang diinduksi dengan kehamilan atau hipertensi yang diperberat dengan kehamilan. Insiden di negara berkembang 0,3 – 0,7 % , sedangkan di negara maju 0,05 – 0,1%. 1,2,5

 

Gejala dan Tanda:

Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala dibagian frontal, gangguan penglihatan, mual, nyeri epigastrium dan hiperrefleksia. 1,2,3

Konvulsi Eklampsia dibagi atas 4 tingkat :

1)         Tingkat awal atau aura

Berlangsung 30 detik. Mata penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata dan tangan bergetar.

2)              Tingkat kejang klonik

Berlangsung kurang 30 detik, seluruh otot kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki bengkok kedalam. Pernafasan berhenti, muka sianotik, lidah dapat tergigit.

3)       Tingkat kejang tonik

Kejang antara 1-2 menit, spasmus tonik menghilang. Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo cepat. Kejang berhenti dan penderita menarik nafas secara mendengkur.

4)       Tingkat Koma

Komplikasi Eklampsia

  1. Solusio plasenta
  2. Hipofibrinogenemia
  3. Hemolisis
  4. Perdarahan otak (penyebab utama kematian maternal)
  5. Kelainan mata
  6. Edem paru
  7. Nekrosis hati
  8. 8. Sindroma HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes and low platelet )
  9. Kelainan ginjal

10.  Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin

Penyebab kematian ibu : perdarahan otak, dekompensasi kordis dan edema paru.

Penyebab kematian janin terutama : hipoksia intra uterin an prematuritas.

Penanganan Eklampsia

Tujuan : menghentikan dan mencegah kejang, mencegah dan mengatasi timbulnya penyulit khususnya krisis hipertensi. Sebagai penunjang untuk stabilisasi keadaan seoptimal mungkin.

Sikap Obstetrik: Mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin.

Pengobatan medisinal :

Sama dengan preeklampsia berat.

Dosis tambahan magnesium sulfat : bila timbul kejang – kejang lagi maka dapat diberikan tambahan magnesium sulfat 2 gr iv, diberikan sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian akhir.

Dosis tambahan 2 gram diberikan 1 kali saja, bila setelah pemberian dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital 3-5 mg/kg bb /iv pelan-pelan.

Perawatan pada serangan  kejang

Dirawat di kamar isolasi cukup terang, masukkan sudip lidah kedalam mulut penderita, daerah orofaring dihisap. Fiksasi badan pada tempat tidur harus cukup kendur guna menghindari fraktur.

Penanganan Obstetrik

Sikap dasar terhadap kehamilan : semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.

Bila diakhiri : kehamilan diakhiri bila telah tercapai “stabilisasi”  (pemulihan) hemodinamika dan metabolisme ibu. Stabilisasi dicapai dalam waktu 4-6 jam.

Stabilisasi yaitu 4-8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan dibawah ini:

q  Setelah kejang berakhir

q  Setelah pemberian anti kejang

q  Setelah pemberian anti hipertensi berakhir

q  Penderita mulai sadar (responsive dan orientasi)

q  Untuk yang koma, perlu dibuat skor tanda vital (STV)

STV > 10 : boleh diterminasi

STV < 9 : tunda 6 jam, kalau tak ada perubahan terminasi

Poin untuk penilaian STV adalah tekanan darah, nadi, suhu rectal, nafas, GCS (Glasgow coma score).

Untuk prognosis dari PEB dibuat kriteria EDEN yang terdiri dari :

1)     Kejang > 10 kali

2)     Tekanan darah sistolik > 200 mmHg

3)     Nadi > 140 kali/menit

4)     Nafas > 40 kali / menit

5)     Suhu > 39 °C

6)     Edema (+)

7)     Protein urin > (+4)

Bila kriteria Eden ³ 1, prognosis jelek

Cara Terminasi : sama dengan PEB

Perawatan Pasca Persalinan

Bila persalinan terjadi pervaginam monitoring tanda-tanda vital dilakukan sebagaiman lazimnya.

 

LAPORAN KASUS

 

Anamnesis

Seorang pasien berumur 21 tahun masuk KB RSUD Solok pada tanggal 22 maret 2004  jam 05.00 WIB kiriman RS Sungai Dareh, dengan :

Keluhan Utama :

Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari sejak 8 jam lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang:

–          Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari sejak 8 jam lalu

–          Keluar lendir campur darah sejak 8 jam lalu

–          Keluar air-air yang banyak dari kemaluan tidak ada

–          Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada

–          Riwayat kejang (+) sejak 16 jam lalu, kejang berlangsung ± 2 menit, seluruh tubuh, berhenti dengan sendirinya, pasien sadar setelah kejang

–          Tidak haid sejak 8 bulan yang lalu

–          HPHT : lupa                      TP : sukar ditentukan

–          Gerak anak dirasakan sejak 4 bulan lalu

–          RHM         : mual (+), muntah (-), perdarahan (-)

–          PNC          : kontrol tidak teratur ke bidan

–          RHT          : mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

–          Riwayat menstruasi           : menarche usia 15 tahun, teratur, 1 X 28 hari, 4-7 hari, 2-3 X ganti duk/hari, nyeri haid (+)

Riwayat Penyakit Dahulu :

Tidak ada menderita penyakit jantung, paru, ginjal, hati, DM dan hipertensi.

 

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan, menular dan kejiwaan.

Riwayat Perkawinan :             1 X tahun 2003

Riwayat Kehamilan / Abortus / Persalinan :           1 / 0 / 0

Riwayat KB : tidak ada

 

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan Umum          : sedang                                   Keadaan gizi   : sedang

Kesadaran                   : komposmentis                       Sianosis           :     –

Tek.darah                    : 160 / 100 mmHg                   Anemis            :     –

Nadi                            : 90 x/I                                     Edema             :    +

Frek. Nafas                 : 23 x/I                                     TB                   : 152 cm

Suhu                            : 37,2 °C                                  BB                   : 68 Kg

 

Kepala             : mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Leher               : JVP 5-2 cm H2O, kelenjar tiroid tidak membesar

THT                 : tidak ada kelainan

Thoraks :

Paru     : I         : simetris kiri = kanan

Pa       : fremitus normal, kiri = kanan

Pe       : sonor

A        : vesicular normal, wheezing (-), ronkhi (-).

 

Jantung     : I         : iktus tak terlihat

Pa       : iktus teraba 1 jari LMCS RIC V

Pe       : batas-batas jantung dalam batas normal

A        : irama teratur, murni , bising (-).

 

Abdomen                    : status obstetric

Genitalia                      : status obstetric

Ekstremitas                 : edema +/+, refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/-

 

Status Obstetrikus:

Muka               : cloasma gravidarum (+)

Mamae            : membesar, A/P hiperpigmentasi, colostrums (+)

Abdomen        :

Inspeksi           : membuncit sesuai usia kehamilan aterm, linea mediana                                             hiperpigmentasi

Palpasi             :LI: teraba massa besar, nodul, fundus uteri teraba  3 jari bawah                                      proc. Xiphoideus.

LII: tahanan terbesar sebelah kanan,  bagian kecil di kiri

LIII: teraba massa bulat, keras, terfiksir

LIV: bagian terendah sudah masuk PAP

TFU     : 28 cm                        TBA    : 2325 gr                      His       : –

Perkusi            : pekak

Auskultasi       : bising usus (+) N,  BJA 12-11-12

 

Genitalia :

Inspeksi           : V/U : tenang, PPV (-)

 

Pemeriksaan Laboratorium:

Darah : Hb      : 10,8 g%                     Urine: Protein : ++++

 

Diagnosis Kerja:

G1P0A0H0 gravid aterm fase laten + eklampsia, anak hidup tunggal,                        intrauterine, letak kepala.

 

Sikap :

  • regimen SM inisial 4 gr SM dalam bentuk dextrose 10% 250 cc/15 menit
  • lanjutkan dosis maintenance reg. SM dlm dextrose 10% 500 cc/4 jam(30gtt/i)
  • tunggu 4 – 6 jam stabil, baru terminasi kehamilan (drip syntocinon).
  • Pemberian antibiotik, kalmoxicillin 3 x 2 gr inj.
  • Pasang dauer catheter

 

 

FOLLOW UP

22-maret-2004, jam 12.00 WIB

 

A/: demam (-), kejang (-), mual (-), muntah (-).

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    160/100           90 x/I                23 x/I             37°C

 

Mata    : konjungtiva tidak anemik, sclera tidak ikterik

Leher   : JVP 5-2 cm H2O, kelenjar tiroid tidak membesar

Toraks : cor dan pulmo dalam batas normal

Abdomen        :

Inspeksi           : membuncit sesuai usia kehamilan aterm, linea mediana                                             hiperpigmentasi

Palpasi             :LI: teraba massa besar, nodul, fundus uteri teraba  3 jari bawah                                      proc. Xiphoideus.

LII: tahanan terbesar sebelah kanan,  bagian kecil di kiri

LIII: teraba massa bulat, keras, terfiksir

LIV: bagian terendah sudah masuk PAP

TFU     : 28 cm                        TBA    : 2325 gr                      His       : –

Perkusi            : pekak

Auskultasi       : bising usus (+) N,  BJA 12-11-12

 

Genitalia :

Inspeksi           : V/U : tenang, PPV (-), terpasang kateter

 

VT       : Æ 2 jari longgar, ketuban (+).

 

Diagnosis kerja :

G1P0A0H0 gravid aterm fase laten + eklampsia, anak hidup tunggal,                  intrauterine, letak kepala.

Sikap :

  • awasi pasien
  • kontrol KU, VS, balance cairan
  • IVFD Dextrose 10 % 500 cc/ 8 jam + SM 40 %

 

Jam 20.00 WIB

A : demam (-), kejang (-), mual (-), nyeri ulu hati (-)

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    160/100           90 x/I                23 x/I             37°C

Mata    : konjungtiva tidak anemik, sclera tidak ikterik

Leher   : JVP 5-2 cm H2O, kelenjar tiroid tidak membesar

Toraks : cor dan pulmo dalam batas normal

Abdomen        :

Inspeksi           : membuncit sesuai usia kehamilan aterm, linea mediana                                             hiperpigmentasi

Palpasi             :LI: teraba massa besar, nodul, fundus uteri teraba  3 jari bawah                                      proc. Xiphoideus.

LII: tahanan terbesar sebelah kanan,  bagian kecil di kiri

LIII: teraba massa bulat, keras, terfiksir

LIV: bagian terendah sudah masuk PAP

Genitalia :

Inspeksi           : V/U : tenang, PPV (-),

 

VT       : Æ 3-4 cm, ketuban (+).

Sikap : idem

Jam 20.30 WIB

A : demam (-), kejang (-), mual (-), nyeri ulu hati (-)

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    150/90             88 x/I                22 x/I             37°C

Mata    : konjungtiva tidak anemik, sklera tidak ikterik

Leher   : JVP 5-2 cm H2O, kelenjar tiroid tidak membesar

Toraks : cor dan pulmo dalam batas normal

Abdomen : idem

Genitalia : VT :  Æ 7-8 cm, ketuban (+), letak kepala.

Sikap :

  • kontrol KU, VS, balance cairan
  • infus RL + sintosinon 5 UI mulai 4 gtt/menit.

 

23 – 03 – 2004 , jam 00.30 WIB

A : demam (-), kejang (-), mual (-), nyeri ulu hati (-)

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    150/90             90 x/I                24 x/I             37°C

 

Mata    : konjungtiva tidak anemik, sklera tidak ikterik

Leher   : JVP 5-2 cm H2O, kelenjar tiroid tidak membesar

Toraks : cor dan pulmo dalam batas normal

Genitalia : VT : Æ lengkap, ketuban (-), letak kepala.

Sikap :

  • Pasien dipimpin untuk persalinan vakum ekstraksi ternyata gagal, kemudian dilakukan forceps ekstraksi ternyata gagal lagi dan akhirnya dianjurkan untuk SC.
  • Persiapan untuk tindakan SC

Jam 02.00 WIB

Pasien dibawa ke OK untuk tindakan SC a.i. eklampsia.

Jam 03.30 WIB

Dilahirkan bayi  perempuan melalui SCTPP:

BB : 2600 gram

PB : 45 cm

Nilai apgar : 2/3

Sikap : lakukan resusitasi terhadap bayi

Jam 08.00 WIB

A : demam (-), kejang (-), mual (-), nyeri ulu hati (-), BAK (+), BAB (-),

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    150/90             84 x/I                22 x/I             37°C

 

Mata    : konjungtiva tidak anemik, sklera tidak ikterik

Leher   : JVP 5-2 cm H2O, kelenjar tiroid tidak membesar

Toraks : cor dan pulmo dalam batas normal

Abdomen :

Inspeksi : perut masih membuncit, luka op. tertutup perban

Palpasi : fundus uteri teraba 1 jari bawah pusat, kontraksi (+), nyeri tekan (-),                          nyeri lepas (-).

Perkusi : timpani

Auskultasi : bising usus (+).

Genitalia :

Inspeksi : vulva / uretra : tenang, lokia rubra (+), PPV(-), terpasang kateter.

Diagnosis : Para1 A0 H1 post SCTPP a.i. eklampsia , anak dan ibu baik, nifas hr ke –1.

Sikap :

  • Kontrol KU,VS, balance cairan
  • Infus dextrose 10 % + SM 40 % 20 cc
  • Kalmoxicillin  3 x 2 gr i.v
  • Gentamicine 2 x 80 mg i.v
  • Rawat luka operasi
  • Ajari ibu untuk merawat payudaranya dan memberikan ASI pada bayinya

 

24 – 03 –2004, jam 08.00 WIB

A : demam (-), kejang (-), mual (-), nyeri ulu hati (-), BAK (+), BAB (-), ASI (+),  edema masih (+).

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    140/90             80 x/I                21 x/I             37°C

Mata dan leher : dlm batas N

Abdomen :

Inspeksi : perut masih buncit, luka operasi tertutup perban

Palpasi : fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat, kontraksi (+)

Perkusi : timpani

Auskultasi : bising usus (+)

Genitalia : inspeksi : V/U : tenang, lokia rubra (+), terpasang kateter

Diagnosis : Para1 A0 H1 post SCTPP a.i. eklampsia , anak dan ibu baik, nifas hr ke –2.

Sikap :

  • Kontrol KU,VS, balance cairan
  • Infus di stop (regimen SM stop)
  • Kalmoxicillin  3 x 2 gr i.v
  • Gentamicine 2 x 80 mg i.v
  • Rawat luka operasi

25 – 03 – 2004, jam 08.10 WIB

A : demam (-), nyeri ulu hati (-), BAK (+), BAB (-), ASI (+),  edema (+) / ß

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    130/80             80 x/I                20 x/I             37°C

Mata dan leher : dlm batas N

Abdomen :

Inspeksi : perut masih buncit, luka operasi mulai mengering.

Palpasi : fundus uteri teraba 2 jari bawah pusat, kontraksi (+), NT (+), NL(+)

Perkusi : timpani

Auskultasi : bising usus (+)

Genitalia : inspeksi : V/U : tenang, lokia rubra (+), terpasang kateter

Diagnosis : Para1 A0 H1 post SCTPP a.i. eklampsia , anak dan ibu baik, nifas hr ke –3.

Sikap :

  • Kontrol KU, VS, balance cairan
  • Kalmoxicillin 3 x 2 gr i.v
  • Gentamicine 2 x 80 mg i.v
  • Rawat luka operasi

 

26 – 03 – 2003, jam 08.15 WIB

A : demam (-), ASI (+),   edema  ß

PF/: KU Kesadaran Tek.darah denyut nadi frek.napas suhu

Sedang    composmentis    120/80             80 x/I                20 x/I             37°C

Mata dan leher : dlm batas N

Abdomen :

Inspeksi : perut masih buncit, luka operasi mulai mengering.

Palpasi : fundus uteri teraba 3 jari bawah pusat, kontraksi (+), NT (+), NL(+)

Perkusi : timpani

Auskultasi : bising usus (+)

Genitalia : inspeksi : V/U : tenang, lokia sanguinolenta (+), kateter aff

Diagnosis : Para1 A0 H1 post SCTPP a.i. eklampsia , anak dan ibu baik, nifas hr ke –4.

Sikap :

  • Kontrol KU, VS.
  • Kalmoxicillin 3 x 2 gr i.v
  • Gentamicine 2 x 80 mg i.v
  • Rawat luka operasi
  • Rencana pulang hari ke-5
  • Kontrol ke poliklinik 6 hari kemudian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISKUSI

Telah dilaporkan kasus seorang pasien wanita berumur 21 tahun dengan diagnosis G1P0A0H0 gravid aterm + eklampsia, anak hidup, tunggal, intrauterine, letak kepala.

Diagnosis eklampsia ditegakkan berdasarkan anamnesis yaitu nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari sejak 8 jam lalu, telah terlambat haid selama 8 bulan lalu, riwayat kejang 16 jam lalu; kejang berlangsung ± 2 menit, seluruh badan, berhenti dengan sendirinya dan pasien sadar setelah kejang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda kehamilan, denyut jantung janin yang positif , terabanya bagian-bagian janin dan pergerakan janin dirasakan oleh ibu serta trias preeklampsia : hipertensi (160/100 mmHg), edema pretibial, dan proteinuria. Pemeriksaan dalam didapatkan pembukaan 2 jari dan ketuban (+).

Penanganan eklampsia dan preeklampsia berat adalah sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia. Penanganan pertama adalah penanganan kejang dengan memberi obat anti konvulsan, obat terpilihnya adalah magnesium sulfat (MgSO4) dengan dosis inisial 4 gr i.v sebagai larutan 40% selama 5 menit kemudian 10 gr lar. MgSO4 50% di bokong kiri dan kanan i.m, jika kejang berulang sesudah 15 mnt, berikan   MgSO4 2g (larutan 40%) i.v selama 5 mnt. Dan dosis pemeliharaan  MgSO4 1-2 g per jam per infus, 15 tetes / menit atau 5 g MgSO4 i.m tiap 4 jam. Kemudian dilanjutkan pemberian MgSO4 sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang berakhir. Sebelum pemberian MgSO4 , periksa : frekuensi napas > 16 kali/menit, refleks  patella (+), urin > 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir. Siapkan antidotum (kalsium glukonas 1 g ) untuk menjaga / mencegah henti napas.

Persalinan harus diusahakan segera setelah keadaan pasien stabil, penundaan persalinan meningkatkan resiko untuk ibu dan janin. Tindakan berupa periksa serviks, bila serviks matang lakukan pemecahan ketuban, lalu induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin. Jika persalinan pervaginam tak dapat diharapkan selama 12 jam pada eklampsia atau 24 jam pada preeklampsia lakukan seksio sesarea.

Pada pasien ini dilakukan seksio sesarea dan dilahirkan bayi perempuan dengan berat 2600 gram, panjang badan 45 cm dan nilai apgar 2/3 dilakukan resusitasi segera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. Cunningham F.G, McDonald, Gant : Hypertensive Disorders in Pregnancy, In Williams Obstetrics 21st ed, Prentice Hall International, Inc, USA, 2001;568-70.

 

  1. Wibowo B, Rachimhadhi T, Preeklampsia dan eklampsia, Wiknjosastro H(ed) Dalam Ilmu Kebidanan edisi 3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 1997; 281-301.

 

  1. Mansjoer A, Triyanti K, et al, Preeklampsia/Eklampsia , Dalam Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga, Jilid 1, Penerbit Media Aesculapius FK-UI, Jakarta 1999; 270-3.

 

  1. Sulin D, Makalah Ilmiah : Kejadian Preeklampsia Berat dan Eklampsia di RSUP Dr.M.Djamil Padang Periode Januari 1985 – Desember 1987, Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, 1988.

 

  1. Dr Güler Şahin, Incidence, morbidity and mortality of pre-eclampsia and eclampsia In : Review prepared for the 12th Postgraduate Course in Reproductive Medicine and  Biology, Geneva, Switzerland, 2003,  diakses dari internet pada 29 maret 2004 http:// www.gfmer.ch/Endo/Course2003/Eclampsia.htm

  1. Saifuddin, Abdul Bari et al, Nyeri kepala, Gangguan Penglihatan, Kejang dan atau Koma, Tekanan Darah Tinggi Dalam Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Cetatakan  Kelima, November 2003, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2003; M 33-46.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s