Abortus infeksius


BAB I

PENDAHULUAN

 

Abortus merupakan  salah satu penyebab kematian ibu di negara berkembang khususnya negara yang melarang tindakan abortus legal. Abortus buatan  yang dilakukan terhadap kehamilan  yang tidak diinginkan  , baik untuk  kepentingan medis  maupun non medis  yang berhubungan dengan kriminalis yang  didalamnya terdapat  masalah global  yang menyangkut segi moral , hukum , agama , ekonomi , budaya serta politik suatu negara. Saat ini kehamilan yang diakibatkan hubungan bebas diluar nikah semakin bertambah , dan jika mereka datang ketenaga ahli mereka akan ditolak dengan alasan terikat hukum , moral etika serta agama. Sehingga akhirnya mereka mencari alternatif lain  untuk menggugurkan kandungan  meskipun dengan komplikasi yang berbahaya. Komplikasi yang utama adalah adanya infeksi yang biasanya diakibatkan manipulasi rongga rahim dengan benda yang tidak steril. ( Pramono A, Saputro HH , 1994 )

Syok sepsis didefinisikan suatu keadaan Sepsis  ditambah hipotensi  walaupun telah diberikan resusitasi cairan dan adanya perfusi jaringan yang tidak adekuat. Syok sepsis merupakan keadaan  yang lebih jarang dijumpai  di bagian Obstetri dan Ginekologi dibandingkan  dengan syok hemoragik. Tetapi perlu penanganan yang segera  oleh karena  angka kematian yang tinggi. ( Cunningham FG , 2001)

Abortus sepsis merupakan salah satu penyebab kematian ibu , kondisi ini terutama terjadi dinegara berkembang sebagian besar diakibatkan  abortus kriminalis . Di Amerika serikat kematian akibat  abortus sepsis  telah menurun  semenjak dilegalkan  abortuss. Sekarang angka  kematian kurang  dari 1 per 100.000 tindakan abortus. Di Indonesia belum didapatkan angka  resmi kematian  karena syok  sepsis ini  namun diprediksikan sangat tinggi . ( Gabbe GS , 1996)

Berikut ini akan dipresentasikan sebuah kasus wanita 22 tahun , status belum menikah , mengalami kehamilan diluar nikah datang kedukun dilakukan abortus buatan , kemudian datang kerumah sakit M.Djamil Padang , setelah dilakukan pemeriksaan didiagnosa dengan G1P0A0H0 gravid 6-8 minggu + Abortus infeksiosus e.c abortus provokatus , pasien dirawat dan berlanjut dalam keadaan syok sepsis dan pasien meninggal sehari setelah dirawat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi   sebelum usia kehamilan 28 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir  atau berat janin kurang dari 1000 gram. Menurut cara terjadinya  abortus dapat digolongkan  menjadi 2 bagian : yaitu abortus spontan dan abortus buatan. Sementara WHO tahun 1993 membagi  abortus buatan menjadi ( Wiknjosastro GH 1997 ) :

  1. Safe abortion : yaitu abortus yang aman dimana tindakan pengakhiran kehamilan dilakukan  oleh tenaga  profesional dengan fasilitas medis yang memenuhi syarat .
  2. Unsafe abortion : yaitu abortus yang tidak aman dimana tindakan pengakhiran kehamilan yang tidak diinginkan  dilakukan oleh tenaga tidak terdidik dan dilakukan ditempat  yang tidak memenuhi syarat standar  medis  serta sering menyebabkan komplikasi.

 

Abortus infeksiosus adalah berakhirnya kehamilan sebelum waktunya dengan usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram yang disertai infeksi pada uterus , parametrium , adneksa  , parametrium dan peritoneum dan akibat lebih jauh menyebabkan sepsis.( Stoval GT ,McCord LM  1996 )

Penyebab utama komplikasi ini adalah  manipulasi dari alat- alat genital seperti memasukkan  benda asing  dalam rongga  rahim dalam keadaan tidak steril. Beberapa faktor yang berperanan pada abortus infeksiosus seperti adanya abortus infeksiosus sebelumnya , paritas , status perkawinan , usia penderita , kuman penyebab , usia kehamilan. Komplikasi yang serius kebanyakan terjadi pada unsafe abortion  walaupun kadang – kadang dijumpai  juga pada abortus  spontan , komplikasi dapat berupa perdarahan , kegagalan ginjal , syok akibat perdarahan  dan infeksi , sepsis. (Arias MD , 1993 )

Umumnya infeksi  terbatas pada  desidua dan dapat juga menyebar  ke miometrium , tuba , parametrium bahkan ke peritoneum  yang menyebabkan peritonitis difusa. Sementara syok akibat infeksi  disebut dengan  endotoksin syok yang sering berakibat fatal , pada abortus yang tidak  diobati  akan mengakibatkan infeksi bila tidak ditanggulangi akan menyebabkan  sepsis akibat endotoksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab. ( Prabowo RP , 1997 , Saifuddin AB 2000 )

 

PATOFISIOLOGI  SYOK SEPSIS

 

Syok adalah suatu keadaan  klinis yang akut pada penderita  yang bersumber  pada berkurangnya  perfusi jaringan  dengan darah akibat gangguan sirkulasi mikro . Kekurangan  oksigen dalam keadaan  syok ini akan diimbangi  dan dikompensasi  oleh metabolisme   anaerob namun  bila kekurangan perfusi  tidak dapat diperbaiki  lama kelamaan  metabolisme  anaerob  dengan glukosa akan menimbulkan  timbunan asam laktat  dan asam piruvat sehingga terjadi  asidosis metabolik  yang mengganggu kehidupan sel – sel . Dengan demikian  hipoksia  jaringanakibat  kekurangan  perfusi  yang berlangsung  terlalu lama  dan progresif akan merusak sel –sel dan pada akhirnya  menyebabkan kematian. ( Prabowo RP , 1997 )

Sepsis adalah Systemic Inflammatory  Response  Syndrome  (SIRS ) yaitu proses inflamasi  yang  disebabkan oleh infeksi , sedangkan  fase klinis  dari SIRS bila ditemukan  2 ataulebih  dari gejala berikut :

  1. Temperatur > 380 C atau < 360 C
  2. Denyut jantung > 90 x/menit
  3. Nafas > 32 x/menit
  4. Leukosit > 12000 / mm3 atau < 4000/mm3

 

Sepsis yang berat  adalah sepsis  ditambah  dengan disfungsi organ  , hipoperfusi  organ – organ terminal . Syok sepsis didefinisikan keadaan sepsis ditambah hipotensi  walaupun  telah dilakukan resisutasi cairan  dan adanya  perfusi jaringan yang tidak adekuat.  Terjadinya  SIRS , Sepsis dan syok sepsis biasanya  dihubungkan  dengan onfeksi bakteri , tetapi bakteremia  bisa saja  tidak ditemukan . Bakteremia adalah ditemukannya bakteri pada komponen  cairan darah . Bakteremia mungkin saja sementara  , seperti yang terjadi  pada trauma  permukaan mukosa . Bakteremia dapat primer  ( tanpa adanya fokus yang jelas  dari infeksi ) atau sekunder ( dengan adanya  fokus intravaskuler atau ekstravaskuler ).

Syok sepsis disebabkan oleh  suatu endotoksin  suatu kompleks  lipopolisakarida  yang berasal dari  dinding bakteri  gram negatif. ( Mabie WC , 1996 , Cunningham FG 2001 )

 

 

 

Gambar : Struktur kimia Endotoksin

Sumber : Cunningham FG , 2001

 

Kemungkinan zat bakteri lainnya menghasilkan   mediator  dengan aktifasi  komplemen yaitu kinin dan  aktifasi  sistem koagulasi . Mediator lain  yang memicu  terjadinya syok sepsis adalah  asam arakhidonic ( leukotrin , prostaglandin , tromboxan ) , sistem komplemen  , katekolamin , fibrinolisisn , glukokortikoid  , bradikinin , histamin , beta endhorpins  , interlekin 1 .

Sepsis membuat  sistem sirkulasi hiperdinamik  . Keadaan ini membuat curah jantung  meningkat  dan menimbulkan  vasodilatasi  pada pembuluh  – pembuluh darah  prekapiler  dalam sirkulasi mikro . Endotoksin menyebabkan  vasospasme  yang kuat pada vena – vena  kecil dan venula  karena pembuluh  – pembuluh darah  postkapiler  ini sangat sensitif  terhadap endotoksin. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG ,2001 )

Dengan adanya vasodilatasi  pembuluh darak  prekapiler  dan vasokonstriksi  pembuluh darah postkapiler  dalam sirkulasi mikro  , terjadilah pengumpulan  darah  pada vena. Keadaan ini menyebabkan  peningkatan tekanan  hidrostatik  dalam kapiler. Endotoksin juga dapat  menimbulkan kerusakan  pada dinding kapiler  yang menimbulkan  perembesan cairan dari ruangan  vaskuler  ke ruangan  ekstravaskuler. Keadaan mengurangi  volume darah yang beredar. Endotoksin  dan komponen  struktur kuman akan berinteraksi  dengan netrofil  , monosit , makrofag  dan sel endotel  sehingga menimbulkan respon tubuh  yang disebut  dengan SIRS.(Cunningham FG ,2001)

Endotoksin juga dapat merusak  sel – sel trombosit . Kerusakan  pada sel  trombosit  dan dinding kapiler  ( pembuluh darah ) serta adanya  anoksia umum  menimbulkan keadaan   yang memudahkan terjadinya DIC. Dengan terjadinya DIC  terbentuklah  gumpalan – gumpalan  darah dan trombin – trombin fibrin  dalam pembuluh darah, sehingga dapat  menyumbat  dan mengganggu  aliran darah  didalamnya. Dengan demikian  volume darah  yang mengalir  kembali  kejantung  berkurang. Selain terhadap pembuluh darah  endotoksin juga   berpengaruh terhadap jantung  yaitu menekan  kerja otot jantung  sehingga  otot jantung  menjadi lemah . Dalam keadaan  hipotensi ini pembuluh darah prekapiler dalam keadaan  vasodilatasi. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG , 2001 , Smith OH , 1997 )

Suhu penderita masih tinggi dan badannya terasa panas , pada keadaan ini penderita berada dalam stadium hipotensi  hangat ( warm hypotensive phase ). Dengan terjadinya hipotensi mulailah terjadi mekanisme  kompensasi seperti yang dijumpai pada hemoragik syok. Terjadi vasokonstriksi pada pembuluh darah , terjadi sympathetic squeezing  , agar terjamin  aliran darah ke organ –organ  vital. Karena adanya  vasokonstriksi pada pembuluh darah  tepi , badan penderita  menjadi dingin  dan suhu  menurun sampai  dibawah normal , keadaan ini penderita  berada  dalam stadium  hipotensi  dingin / cold hypotensive  phase.

Bila syok dalam stadium ini tidak diatasi dan endotoksemia tidak terkendali maka reaksi pembuluh pembuluh darah  sepenuhnya  dalam keadaan pengaruh  zat – zat vasodilator  yang disebabkan   oleh  jaringan  yang mengalami  kerusakan . Dengan  terjadinya  vasodilatasi  dalam sirkulasi  mikro , maka syok septik menjadi irreversible  dengan segala akibatnya. ( Prabowo RP , RP 1997 , Gabbe GS , 1996 , Cunningham FG 2001 )

 

 

Gambar : Patogenesa Syok sepsis

Sumber : Smith OH , in Te Linde Operative Gynecology 1996

 

 

GEJALA KLINIS

 

Syok sepsis pada pasien obstetri umumnya  dikaitkan  dengan 4 macam infeksi spesifik yaitu  abortus sepsis , pielonefritis akut , endometritis atau chorioamnionitis yang berat . Hanya 5 %  dari pasien infeksi diatas  yang berkembang  menjadi syok sepsis.

Syok sepsis menurut gejala klinis terbagi 2  fase yaitu ( Cunningham FG , 2001 )

  1. Fase reversible ( terdiri  dari early ( warm hypotensive phase ) dan late ( cold hypotensive phase ).
  2. Fase irreversible

Klinis dari warm hypotensive  phase berupa  hipotensi , suhu badan tinggi sampai 40 C , naiknya suhu badan sering disertai dengan  menggigil , tidak jarang penderita  mengeluarkan keringat , kulit teraba hangat , nadi agak cepat , penderita biasanya  dalam keadanan gelisah.

Bila penyakit berjalan  terus akibat vasokonstriksi yang luas , maka timbul  gejala dari cold hypotensive  phase berupa  hipotensi disertai  suhu badan  yang dibawah normal , penderita terlihat pucat , kulit teraba  dingin dan lembab , nadi menjadi  lebih cepat  terjadi oliguria atau anuria  , nafas cepat dan dalam  , curah jantung menurun. Jantung menjadi aritmia dengan tanda iskemia miokard dapat terjadi. Ikterik dapat terjadi sebagai tanda adanya hemolysis . Produksi urine akan berkurang bahkan dapat timbul suatu anuria.  Pada fase ini terdapat trias  yang khas yaitu  hipotensi , takikardi dan oliguria. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG , 2001)

Dalam syok sepsis yang irreversible  terjadi asidosis metabolik  berat karena  pada hipoksia seluler  dan metabolisme anaerob yang berlangsung terus , dalam darah ditemukan  penumpukan asam laktat , dalam stadium ini  mulai timbul gangguan fungsi  alat – alat vital  seperti paru – paru , ginjal , susunan saraf pusat dan sebagainya. Dapt juga timbul adanya endotel kapiler pulmoner   yang mengalami kerusakan  dengan kebocoran  kedalam  alveoli sehingga timbul  edema pulmoner  atau disebut  ADRS ( adult systress respiratory syndrome )   ( Cunningham FG , 2001 )

Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemui  leukositosis pada stasium awal , lekopeni pada stadium lanjut  , hemoglobin menurun  oleh karena adanya hemolisis. Fungsi pembekuan  seperti jumlah trombosit , kadar fibrinogen serum  ,  protrombin time , parsial tromboplastin time  umumnya tak normal. Kadar enzym transaminase   dan bilirubin sering meningkat. Peningkatan kadar  ureum darah dan kreatinin  darah mencerminkan   keadaan fungsi ginjal yang tidak normal. Enzim SGOT dan SGPT  meningkat juga .  Pemeriksaan radiologi  pada pasien dengan syok sepsis  dilakukan apakah terdapat suatu keadaan pnemonia . Sedangkan pemeriksaan  CT scan , MRI dan Ultrasound  akan dapat  berguna untuk  menentukan lokasi abses.  EKG diperlukan untuk monitoring  dan mendeteksi  adanya tanda aritmia  atau tanda iskemia. ( Prabowo RP , 1997 )

 

PENATALAKSANAAN

 

Prinsip umum  penatalaksanaan  syok sepsis adalah  menghilangkan infeksi dan mempertahankan  hemostasis  kardiovaskuler  dan respirasi. Terapi segera diberikan untuk mencegah  keadaan irreversible.

Bagi wanita dengan abortus septik, hasil konsepsi harus segera dikeluarkan melalui kuretase. Menurut Pritchart dan Whalley disamping para pakar lainnya histerektomi jarang dilakukan kecuali bila uterus sudah mengalami leserasi atau jelas infeksi berat. (CunninghamFG , 2001)

 

1. Perbaiki Ventilasi

Tindakan pertama terhadap pasien syok sepyik adalah pemberian oksigen serta pembebasan jalan napas, oksigen diberikan lewat masker untuk memperbaiki hipoksia jaringan yang tengah terjadi. Jika jalan napas tidak bebas atau pernapasan tidak adekuat, dapat dilakukan pemasangan intubasi endotrakea. (Rinaldi N ,1989)

Jika pemberian cairan yang agresif tidak segera diikuti oleh produksi urin sedikitnya sebanyak 30 cc dan sebaiknya 50 cc per jam, disamping tidak ditemukannya indikator lain yang menunjukkan perbaikan perfusi, maka kita harus memasang Central Venous Pressure (CVP).( Cunningham , FG 2001 )

 

2. Pemberian Antibiotika

Preparat antimikroba berspektrum luas dibariakn dalam dosis tinggi setelah pengambilan contoh yang tepat untuk pemeriksaan kultur. Pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan kultur darah bersama pemeriksaan spesimen eksudat yang tidak terkontaminasi oleh flora normal. Untuk pasien yang menglami abortus septik atau infeksi fasia yang dalam, pemeriksaan sediaan apus dengan pewarnaan gram mungkin dapat membantu mengetahui kuman penyebab infeksi. (Cunningham FG , 2001,Saifuddin AB 2000)

 

3. Kortikosteroid

Penggunaan kortikosteroid pada syok septik adalah untuk : menurunkan tingkat mediator kuman seperti hitamin dan serotonin dengan mencegah endotoxin-complement fixation dan kemudian mencegah produksi anaphylatoxin. Disamping itu juga merangsang glukoneogenesis dan mempunyai efek vasodilatasi dan menstabilkan membran lisosomal. (Cunningham FG, 2001)

 

4. Obat Penunjang

-          Diuretika dibarikan bila terdapat oliguria dan mencegah terjadinya acut tubuler necrosis yaitu dengan pemberian cairan manitol 20% 200 cc selama 20 menit atau furosemid 40 – 200 mg i.v. juga untuk mengurangi kelebihan cairan dan edema paru

-          Digitalisasi bila ada payah jantung

-          Pengobatan DIC. Bila terdapat level fibrinogen yang rendah, penurunan jumlah platelet dan peningkatan hasil degradasi fibrin, dipertimbangkan untuk pemberian heparin. Alternatif lain adalah Fresh Frozen Plasma atau Whole Blood . ( Dutta DC 1998 ,Cunningham, FG ,2001)

 

5. Koreksi asidosis

 

Pada syok dihasilkan asam laktat yang merupakan metabolisme anaerob dari glukosa. Asam laktat yang meninggi pada sepsis menyebabkan asidosis. Untuk mengtasi asidosis dapat diberikan sodium bikarbonat. Dosis pertama adalah 50 – 100 meq sodium bikarbonat dan dosis selanjutnya tergantung pada status klinis pasien dan hasil analisa gas darah. (Dutta DC, 1998)

 

Prognosis

            Pada umumnya prognosis syok septik buruk. Karena angka kematian syok ini sangat tinggi maka sangat perlu penggunaan antibiotiak untuk dapat mencegah terjadinay syok septik. kematian karena sepsis dan syok septik bervariasi tergantung kondisi dasar pasien, kuman penyebab, pemberian antibiotika dan komplikasi yang menyertai.( Gabbe GS ,1996)

-          Pasien dengan penyakit dasar yang berat seperti leukemia mempunyai prognosis yang jelek, pasien tanpa penyakit dasar mempunyai prognosis yang lebih baik.

-          End-organ failure merupakan penyebab kematian terbanyak.

 

 

 

BAB III

           KASUS

 

Identitas :

N a m a      :  Sri Suhartati

Umur          : 22 thn

Pekerjaan  : Mahasiswi

Alamat       : Parak Gadang no 15

Status        : Belum menikah

 

Seorang pasien wanita umur 22 tahun masuk  IGD tanggal 10-11-2001 jam 21.15 dengan :

Keluhan utama : Keluar darah dari kemaluan  sejak 1 minggu yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Keluar darah dari kemaluan sejak  1 hari yang lalu  , kemudian pergi berobat kebidan namun karena masih terjadi perdarahan kemudian pasien pergi berobat ke rumah sakit.

-          Pasien mengaku menikah  sejak 2 bulan yang lalu , kemudian pasien terlambat haid , HPHT tanggal 25 – 9 – 01 , kemudian oleh pasien dicoba diurut , menstruasi tidak keluar – keluar juga lalu dimasukkan  kayu oleh dukun sebanyak 2 kali , yang pertama satu minggu yang lalu , yang kedua  3 hari yang lalu.

-          Demam sejak 3 hari yang lalu , mual (+) , muntah (+)

-          Sesak nafas sejak 10 jam yang lalu

-          Buang air kecil normal.

Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah menderita  penyakit hati , paru ,

jantung , ginjal , hipertensi  , Diabetes Melitus.

Riwayat Penyakit Dahulu : tidak ada anggota keluarga menderita penyakit

keturunan , kejiwaan  , menular ,

Riwayat Perkawinan : 1 kali tahun 2001

Riwayat kehamilan : sekarang

PEMERIKSAAN FISIK :

Kesadaran : Komposmentis kooperatif

Keadaan umum : buruk

Tekanan darah : 90 / 60 mmhg

Nadi  : 115 x /menit

Suhu : 39,5 0 C

Pernafasan : 40 x/menit

Kulit                               :  sianosis ( – )

Kepala                          : tidak ada kelainan

Mata                              : Konjungtiva tak anemis, sklera tak ikterik

Telinga                          : tidak ada kelainan.

Leher                             : JVP 5 – 2 cmH2O, kel. Tyroid tidak membesar

Paru                              : Ronkhi ( – ),  Wheezing ( – )

Jantung                        : LVH, irama teratur, bising ( – )

Abdomen                     : status ginekologis

Genitalia                       : status ginekologis

Ekstremitas                  : edema +/+, Refleks Fisiologis +/+, Refleks

Patologis-/-

STATUS GINEKOLOGIS

 

Muka : Khloasma gravidarum (+)

Mamae : membesar , A/P hiperpigmentasi  , colostrum (+)

Abdomen : Inspeksi : tak nampak membuncit , Line mediana

Hiperpigmentasi , striae (-) , sikatrik (-) venectasi (-)

Palpasi : FUT tak teraba , massa (-) , nyeri tekan (+) , Nyeri

lepas (-) , Defans muskuler (-) .

Perkusi : Shifting dullness (-)

Auskultasi : tympani

Genetalia : Inspeksi vulva uretra tenang

Vagina : fluxus (+) , warna merah kehitaman  menumpuk di

forniks posterior , berbau busuk , laserasi (-) , tumor (-).

Porsio : Nulipara ukuran sebesar jempol kaki dewasa , tumor

(-), laserasi (-) , OUE terbuka 1 cm , fluxus (+) , warna

merah kehitaman , merembes sedikit dari kanalis

servikalis.

Pemeriksaan Dalam :

Vagina : tumor (-)

Porsio: Nulipara , ukuran sebesar jempol kaki dewasa ,

tumor (-),nyeri goyang (+)

Corpus uteri  : sebesar telur bebek , permukaan rata , konsistensi

Kenyal .

Adneksa parametrium : lemas kiri = kanan

Kavum Douglasi : tak menonjol , nyeri tekan (-).

Laboratorium : tgl 19 – 11-2001

Gula darah random : 88 mg %

HB : 8,3 gr %

Leukosit : 31.200/mm

Plano tes : (-)

Trombosit : 91.000/ mm3

Urinalisis : kimia : protein : +++

Reduksi : -

Sedimen : Leukosit : +

Eritrosit : ++

Silinder : -

Kristal : -

Epitel : gepeng

Bilirubin  :  -

Urobilin   : +

Diagnosa : G1P0A0H0 gravid 6-8 minggu + abortus infeksiosus e.c

abortus provokatus

Sikap : Perbaiki keadaan umum

Kontrol vital sign

Antibiotik

Rawat bangsal ginekologi

Rencana kuratage setelah 3 hari

Lapor konsulen advis : konsul penyakit dalam

 

Follow up tgl 20-11-01

Anamnesa : Keluar darah dari kemaluan sedikit – sedikit

Demam (-)

Perut kembung (+)

Pemeriksaan fisik :

Keadaan umum : Buruk

Kesadaran : komposmentis kooperatif

Tekanan darah : 90 / 60 mmhg

Nadi : 108 x/mnt

Nafas : 42x/mnt

Suhu  : 39C

Mata : konjungtiva anemis

Sklera tak ikterik

Leher : JVP 5 – 2 cmH2O , Kel getah bening tak membesar

Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal

Abdomen : I : tak nampak membuncit

P : FUT tak teraba , Nyeri tekan (+) , Nyeri lepas (-) , Defans muskular (-)

Perkusi : timpani , meteorismus (+)

Auskultasi : bising usus (+) Normal

Genetalia : Inspeksi Vulva / uretra tenang

Kateter urine terpasang : urine 10 cc warna merah kehitaman

Diagnosa : G1 P0A0H0 Gravid 6-8 minggu + syok septik e.c Abortus

infeksiosus e.c abortus provokatus

Sikap :   tidur semifowler

Oksigen 4 liter /menit

Fortagyl 3 x 1

Gentamicyn 2 x 80 gr

Kalfoxim 2 x 1gram

Infus Nacl 28 tts / mnt

Metergin 3 x 1 amp

Periksa labor lengkap

Konsul penyakit dalam

Rencana : curettage setelah perbaikan keadaan umum

 

Hasil Konsul penyakit Dalam jam 11.30 WIB

Kesan  : Syok Sepsis  e.c abortus infeksiosus

Terapi  : Istirahat

Makanan lunak

Infus Na Cl tetesan cepat sampai tensi > 90 mmhg lalu lanjutkan

4 jam / kolf

Antibiotik sesuai TS

Kalmetason 4 x 20 mg iv

Anjuran : Periksa Bilirubin darah I ,II

Ureum , kreatinin

Faal hemostatis , PT , APT, PTT , CT , BT, Trombosit

 

Jam 13.00

Pasien apnoe

Pemeriksaan fisik :
Keadaan Umum : jelek

Kesadaran : Soporos komatus

Nadi   : tak teraba

Tekanan darah : tak teraba

Nafas : apnoe

Suhu : 38,5

Mata  :  konjungtiva  anemis , sklera ikterik

Pupil midriasis 4 mm / 4 mm

Reflek pupil  + / +

Leher : JVP 5 – 2 cm H20

Kelenjar tiroid tak membesar

Thoraks : Jantung dan paru tak terdengar

Gerak pernafasan tak ada

Abdomen : status ginekologis

Ekstremitas : RF + / +

RP – / -

Edema – / -

akral dingin

Laboratorium  tgl 20-11-01 jam 13.00

Hemoglobin 8,8 gr %

Lekosit : 10.200 / mm

Ureum : 112 mgr %

Kreatinin : 4, 20 mg%

Trombosit : 87.000/mm

SGOT : 76 u/ml

SGPT : 42 u/ml

Diagnosa : syok sepsis e.c abortus infeksiosus e.c abortus provokatus

Dilakukan  resusitasi kardiopulmonal dan intubasi

Jam 13.30 : pasien dinyatakan meninggal dihadapan petugas medis , paramedis , dan keluarga pasien.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel Kontrol keadaan umum

 

 

 

Tanggal /

Jam

Suhu Nadi Nafas Tensi Urine Keterangan
19-11-01

22.00

 

 

 

 

 

22.15

22.30

 

 

 

 

22.45

23.00

23.15

23.30

23.45

24.00

 

20-11-01

00.15

01.00

01.30

 

02.00

 

02.15

 

 

02.30

03.00

03.15

03.30

04.00

04.15

04.30

04.45

 

 

 

05.30

05.45

06.00

06.15

06.30

06.45

07.00

07.15

07.30

07.45

08.00

08.30

09.00

09.30

10.00

10.30

11.00

11.30

12.00

12.30

13.00

 

13.15

 

13.30

39,5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

38

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

39,5

39,5

39,2

39,1

39,0

39,0

38,8

38,8

38,5

38,5

116

 

 

 

 

 

 

116

116

 

 

 

 

116

112

112

112

112

116

 

 

116

114

116

 

120

 

Cepat dan halus

120

116

116

116

112

112

112

112

 

 

 

108

108

108

108

108

108

108

112

108

108

107

112

114

112

110

112

114

112

116

120

Tak teraba

Tak teraba

Tak teraba

40

 

 

 

 

 

 

40

44

 

 

 

 

44

44

44

44

48

48

 

 

48

54

54

 

56

 

56

 

 

56

54

54

54

52

48

48

48

 

 

 

44

44

44

44

44

44

42

44

42

42

42

44

44

44

42

42

44

42

44

80 / 60

 

 

 

 

 

 

80 / 60

90 / 60

 

 

 

 

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

 

 

90 / 60

100 / 90

100 / 90

 

90 / 60

 

60 / pols

 

 

80 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

 

 

 

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

80 / 60

80 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

60 / pols

Tak teraba

Tak teraba

Tak teraba

30 cc kehitaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20 cc

Kehitaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 cc warna merah kehitaman

 

 

 

 

 

 

 

 

Infus RL guyur 1000 cc

Dexametason 2 amp

Oksigen 4 L / Menit

 

Elyzol 1 kolf

Cefotaxim 1 gr

Gentamicin 80 gr

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dexametason 2 amp

 

 

 

 

 

 

 

Pasien pindah ke ZGL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Plasmafusin

Nacl 0,9 %  guyur

 

Apnoe tiba-tiba

à RKP + Intubasi

 

Meninggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

 

PEMBAHASAN

 

 

Pasien ini masuk Instalasi Gawat Darurat tgl  19 – 11 – 2001 ketika masuk  pasien mengaku  sudah menikah namun belakangan  diketahui bahwa pasien  bertatus belum menikah  , hal ini sesuai dengan literatur bahwa saat ini hubungan bebas diluar perkawinan  cenderung bertambah banyak yang mengakibatkan  kehamilan tidak diinginkan  dan pada akhirnya   akan melakukan  abortus dengan segala  akibatnya . Kehamilan diluar perkawinan   khususnya di Indonesia  dianggap sebagai  aib dan peristiwa yang memalukan  bagi keluarga , dan jika mereka datang   pada tenaga ahli   untuk menggugurkan   kandungan akan ditolak  karena alasan etik , moral ,  hukum , agama sehingga  mereka mencari  alternatif lain yang berakhir  dengan berbagai komplikasi. Penyebab utama  komplikasi  adalah  akibat manipulasi  pada alat  kandungan berupa  pijatan atau memasukan  benda asing  kedalam  rongga rahim  dalam kondisi tidak steril , dan pada  pasien ini abotus buatan dilakukan oleh tenaga tidak terlatih ( dukun ) dengan memasukan  benda asing  semacam kayu  kedalam rongga rahim sehingga menimbulkan komplikasi infeksi yang berlanjut  pada keadaan sespis.

Diagnosa abortus infeksiosus pada saat ini belum seragam dimana kriteria diagnosa  yang diajukan masih berbeda – beda   berdasarkan gambaran klinis. Kriteria minimal  yang diajukan adalah demam  lebih dari 38 C walaupun sangat bervariasi tergantung dari  perjalanan infeksinya , adanya tanda kehamilan  , tanda infeksi dari rongga  pelvis , nyeri tekan pada uterus dan adneksa , pengeluaran  sekret dari serviks yang purulen , berbau  dan  produk  konsepsi  yang terinfeksi  . (Dikutip dari Ichwan Z , 1999)

Pada  pasien ini adanya syok sepsis disebabkan  perjalanan penyakit akibat  adanya  abortus infeksiosus sehingga menimbulkan adanya bakteremia  mengakibatkan  adanya pelepasan endotoxin sehingga menimbulkan endotoxemia yang menimbulkan  pelepasan endorphin , katekolamin  , aktivasi komplemen kaskade  sehingga menimbulkan   kerusakan seluler , kerusakan mikrovaskuler yang menimbulkan  iskemia jaringan  , pelepasan histamin    yang menimbulkan  transudasi cairan intravaskuler  kedalam ruangan ekstravaskuler   , sehingga hal tersebut mengakibatkan  penurunan  volume sirkulasi darah yang  menimbulkan  penurunan venous return  , selanjutnya   penurunan  tekanan darah sistemik  dan  akibat lebih lanjut  menimbulkan  kerusakan  jaringan lebih lanjut sehingga timbul  asidosis  metabolik dan berlanjut menjadi  hipotensi   yang tak teratasi , multiple organ failure dan koma serta berakhir dengan kematian. ( Gabbe GS , 1996 )

Keluhan dan gejala klinis  pada permulaan  sepsis  sangat tidak spesifik  , pasien mengeluh menggigil , berkeringat , nafas pendek  , mual  , diare dan  sakit kepala. Pada pasien ini   sepsis didasarkan adanya gejala klinis suhu yang > 38C , leukosit 30.000/mm , frekuensi pernafasan  40 x/menit , frekuensi nadi 112 x/menit , hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa untuk pengenalan dini  bahwa pasien  telah masuk kedalam  keadaan septik dengan menggunakan  ciri kuantitatif  SIRS yaitu (Mabbie WC , 1996 ):

  1. Suhu badan > 380 C
  2. Frekuensi denyut jantung  > 90 x / menit
  3. Frekuensi pernafasan > 20 x / menit
  4. Hitung leukosit  > 12.000/mm3 , < 4000/mm3

Adanya multiple organ failure pada pasien ini berdasarkan produksi urine  sedikit  6 cc/ 1jam warna merah kehitaman , hasil laboratorium ureum ( 112 mgr %) dan  kreatinin ( 4,2 mgr %) yang  tinggi dari normal  merupakan tanda kerusakan pada ginjal . Kerusakan ginjal yang menetap pada abortus biasanya disebabkan oleh bermacam  efek dari infeksi , dimana endotoksin  dapat menyebabkan  kerusakan  ginjal bukan pada  epitel tubulus  tetapi pada membrane basalis rusak , epitel tidak  dapat mengadakan  regenerasi untuk membentuk fungsi nefron. (Smith OH , 1997 )

Kerusakan pada hepar ditandai dengan tingginya SGOT ( 76 u/ml)dan SGPT (42 u/ml) .Sehungga pada pasien ini sudah terjadi keadaan multiple organ failure.

Pada pasien ini monitoring  terhadap pasien kurang adekuat , mengingat sepsis  merupakan  penyebab mortalitas yang tinggi  dan harus diatasi  sebelum terjadinya keadaan yang lebih parah , monitoring yang tidak dilakukan pada pasien berupa pemeriksaan EKG , pemeriksaan rontgen , dan  laboratorium  seperti analisa gas darah , elektrolit  , kultur darah , urine .

Prognosis umumnya buruk , dengan multiple organ failure merupakan penyebab  kematian terbanyak. Penyebab kematian pada pasien ini adalah adanya muliple organ failure dan adanya hipotensi yang tidak dapat diatasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

 

  1. Kehamilan yang terjadi pada pasien ini akibat hubungan bebas diluar perkawinan .
  2. Penyebab abortus infeksiosus pada  pasien ini adalah adanya komplikasi infeksi  akibat abortus buatan yang dilakukan oleh tenaga tidak terlatih dengan memasukan benda kedalam rongga rahim dalam keadaan tidak steril.
  3.  Penyebab kematian pada pasien ini adalah adanya hipotensi yang tidak teratasi dan adanya multiple organ failure.

 

SARAN

 

  1. Perlunya pemberian informasi kepada masyarakat tentang bahaya komplikasi akibat abortus buatan yang dilakukan oleh tenaga tidak terlatih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.   Pramono A , Saputro HH : Karakteristik Abortus Infeksiosus :

Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia , April 15:2 ,. Bagian

Obstetri dan Ginekologi Fakutas kedokteran Universitas

Diponegoro  Semarang 1994 , hal 118-28.

2.   Prabowo RP : Syok dalam kebidanan , Ilmu Kebidanan , Yayasan

Bina Pustaka  Sarwono Prawirohardjo , Jakarta  , 1997 , hal 675 –

88.

3.  Smith  HO : Shock in Gynaecologic Patien in the Te Linde

Operative Gynecologic 8th ed, Lippincott Raven , Philadelphia –

New York , 1997, p 245-259.

  1. Saifuddin AB : Manajemen  kegawatdaruratan dalam Acuan Nasional  Pelayanan  Kesehatan Maternal dan Neonatal , Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo , Jakarta , 2000 , hal 72-77.
  2. Rinaldi N, Dachlan R : Syok dalam Anestesiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , Jakarta , 1989 , hal 172-81.
  3. Wiknjosastro GH : Abortus dalam ilmu Kebidanan , Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo , Jakarta , 1997 ,hal 110-18
  4. Arias MD , Early Pregnancy Loss Practical  Guide  to High  Pregnancy  and Delivery  2th edition , Mosby Year Book Company ST Louis 1993 p 55-70
  5. Ichwan Z , Tesis Kejadian Endometritis Pada Abortus Inkomplet selama 3 Bulan di RSUP Dr.M.Djamil Padang 1 Juni 1999 – 31 Agustus 1999. Laboratorium / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNAND Padang 1999.
  6. Mabie WC : Septic Shock in  Obstetrics  Normal  and Problem Pregnancies  , Churchill Livingstone , New York , 1996 , p 550-52
  7. Dutta DC : Shick in Obstetrics , Text Book of Obstetrics , 4th edition , New India Central Book Agency ( P) LTD , 1998, P 655 – 62.
  8. Smith OH , Shock in Gynecology  Patient , in TeLinde Operative Gynecology , eight edition , Lippincott Raver , 1997 , p 245 – 62.
  9. Howard FJ :Family Planning in Novaks Textbook of Gynecology 12th edition , William & Wilkins , Baltimore , Maryland , 1996 , p 264-9
  10. Cunningham FG , Critical Care and Trauma , Williams Obstetrics , 21th edition , Prentice Hall International  , 2001 , p 1059-78
  11. Gabbe GS , Maternal  and Perinatal  Infection obstetrics  normal and  Problems Pregnancy , 3rd edition  , Churchill LivingstoneInc , 1996 , p 1193-1247.
  12. Stovall GT , Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy Novaks Textbook of Gynecology 12th edition , William & Wilkins , Baltimore , Maryland , 1996 , p 487-502

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Abortus merupakan  salah satu penyebab kematian ibu di negara berkembang khususnya negara yang melarang tindakan abortus legal. Abortus buatan  yang dilakukan terhadap kehamilan  yang tidak diinginkan  , baik untuk  kepentingan medis  maupun non medis  yang berhubungan dengan kriminalis yang  didalamnya terdapat  masalah global  yang menyangkut segi moral , hukum , agama , ekonomi , budaya serta politik suatu negara. Saat ini kehamilan yang diakibatkan hubungan bebas diluar nikah semakin bertambah , dan jika mereka datang ketenaga ahli mereka akan ditolak dengan alasan terikat hukum , moral etika serta agama. Sehingga akhirnya mereka mencari alternatif lain  untuk menggugurkan kandungan  meskipun dengan komplikasi yang berbahaya. Komplikasi yang utama adalah adanya infeksi yang biasanya diakibatkan manipulasi rongga rahim dengan benda yang tidak steril. ( Pramono A, Saputro HH , 1994 )

Syok sepsis didefinisikan suatu keadaan Sepsis  ditambah hipotensi  walaupun telah diberikan resusitasi cairan dan adanya perfusi jaringan yang tidak adekuat. Syok sepsis merupakan keadaan  yang lebih jarang dijumpai  di bagian Obstetri dan Ginekologi dibandingkan  dengan syok hemoragik. Tetapi perlu penanganan yang segera  oleh karena  angka kematian yang tinggi. ( Cunningham FG , 2001)

Abortus sepsis merupakan salah satu penyebab kematian ibu , kondisi ini terutama terjadi dinegara berkembang sebagian besar diakibatkan  abortus kriminalis . Di Amerika serikat kematian akibat  abortus sepsis  telah menurun  semenjak dilegalkan  abortuss. Sekarang angka  kematian kurang  dari 1 per 100.000 tindakan abortus. Di Indonesia belum didapatkan angka  resmi kematian  karena syok  sepsis ini  namun diprediksikan sangat tinggi . ( Gabbe GS , 1996)

Berikut ini akan dipresentasikan sebuah kasus wanita 22 tahun , status belum menikah , mengalami kehamilan diluar nikah datang kedukun dilakukan abortus buatan , kemudian datang kerumah sakit M.Djamil Padang , setelah dilakukan pemeriksaan didiagnosa dengan G1P0A0H0 gravid 6-8 minggu + Abortus infeksiosus e.c abortus provokatus , pasien dirawat dan berlanjut dalam keadaan syok sepsis dan pasien meninggal sehari setelah dirawat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi   sebelum usia kehamilan 28 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir  atau berat janin kurang dari 1000 gram. Menurut cara terjadinya  abortus dapat digolongkan  menjadi 2 bagian : yaitu abortus spontan dan abortus buatan. Sementara WHO tahun 1993 membagi  abortus buatan menjadi ( Wiknjosastro GH 1997 ) :

  1. Safe abortion : yaitu abortus yang aman dimana tindakan pengakhiran kehamilan dilakukan  oleh tenaga  profesional dengan fasilitas medis yang memenuhi syarat .
  2. Unsafe abortion : yaitu abortus yang tidak aman dimana tindakan pengakhiran kehamilan yang tidak diinginkan  dilakukan oleh tenaga tidak terdidik dan dilakukan ditempat  yang tidak memenuhi syarat standar  medis  serta sering menyebabkan komplikasi.

 

Abortus infeksiosus adalah berakhirnya kehamilan sebelum waktunya dengan usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram yang disertai infeksi pada uterus , parametrium , adneksa  , parametrium dan peritoneum dan akibat lebih jauh menyebabkan sepsis.( Stoval GT ,McCord LM  1996 )

Penyebab utama komplikasi ini adalah  manipulasi dari alat- alat genital seperti memasukkan  benda asing  dalam rongga  rahim dalam keadaan tidak steril. Beberapa faktor yang berperanan pada abortus infeksiosus seperti adanya abortus infeksiosus sebelumnya , paritas , status perkawinan , usia penderita , kuman penyebab , usia kehamilan. Komplikasi yang serius kebanyakan terjadi pada unsafe abortion  walaupun kadang – kadang dijumpai  juga pada abortus  spontan , komplikasi dapat berupa perdarahan , kegagalan ginjal , syok akibat perdarahan  dan infeksi , sepsis. (Arias MD , 1993 )

Umumnya infeksi  terbatas pada  desidua dan dapat juga menyebar  ke miometrium , tuba , parametrium bahkan ke peritoneum  yang menyebabkan peritonitis difusa. Sementara syok akibat infeksi  disebut dengan  endotoksin syok yang sering berakibat fatal , pada abortus yang tidak  diobati  akan mengakibatkan infeksi bila tidak ditanggulangi akan menyebabkan  sepsis akibat endotoksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab. ( Prabowo RP , 1997 , Saifuddin AB 2000 )

 

PATOFISIOLOGI  SYOK SEPSIS

 

Syok adalah suatu keadaan  klinis yang akut pada penderita  yang bersumber  pada berkurangnya  perfusi jaringan  dengan darah akibat gangguan sirkulasi mikro . Kekurangan  oksigen dalam keadaan  syok ini akan diimbangi  dan dikompensasi  oleh metabolisme   anaerob namun  bila kekurangan perfusi  tidak dapat diperbaiki  lama kelamaan  metabolisme  anaerob  dengan glukosa akan menimbulkan  timbunan asam laktat  dan asam piruvat sehingga terjadi  asidosis metabolik  yang mengganggu kehidupan sel – sel . Dengan demikian  hipoksia  jaringanakibat  kekurangan  perfusi  yang berlangsung  terlalu lama  dan progresif akan merusak sel –sel dan pada akhirnya  menyebabkan kematian. ( Prabowo RP , 1997 )

Sepsis adalah Systemic Inflammatory  Response  Syndrome  (SIRS ) yaitu proses inflamasi  yang  disebabkan oleh infeksi , sedangkan  fase klinis  dari SIRS bila ditemukan  2 ataulebih  dari gejala berikut :

  1. Temperatur > 380 C atau < 360 C
  2. Denyut jantung > 90 x/menit
  3. Nafas > 32 x/menit
  4. Leukosit > 12000 / mm3 atau < 4000/mm3

 

Sepsis yang berat  adalah sepsis  ditambah  dengan disfungsi organ  , hipoperfusi  organ – organ terminal . Syok sepsis didefinisikan keadaan sepsis ditambah hipotensi  walaupun  telah dilakukan resisutasi cairan  dan adanya  perfusi jaringan yang tidak adekuat.  Terjadinya  SIRS , Sepsis dan syok sepsis biasanya  dihubungkan  dengan onfeksi bakteri , tetapi bakteremia  bisa saja  tidak ditemukan . Bakteremia adalah ditemukannya bakteri pada komponen  cairan darah . Bakteremia mungkin saja sementara  , seperti yang terjadi  pada trauma  permukaan mukosa . Bakteremia dapat primer  ( tanpa adanya fokus yang jelas  dari infeksi ) atau sekunder ( dengan adanya  fokus intravaskuler atau ekstravaskuler ).

Syok sepsis disebabkan oleh  suatu endotoksin  suatu kompleks  lipopolisakarida  yang berasal dari  dinding bakteri  gram negatif. ( Mabie WC , 1996 , Cunningham FG 2001 )

 

 

 

Gambar : Struktur kimia Endotoksin

Sumber : Cunningham FG , 2001

 

Kemungkinan zat bakteri lainnya menghasilkan   mediator  dengan aktifasi  komplemen yaitu kinin dan  aktifasi  sistem koagulasi . Mediator lain  yang memicu  terjadinya syok sepsis adalah  asam arakhidonic ( leukotrin , prostaglandin , tromboxan ) , sistem komplemen  , katekolamin , fibrinolisisn , glukokortikoid  , bradikinin , histamin , beta endhorpins  , interlekin 1 .

Sepsis membuat  sistem sirkulasi hiperdinamik  . Keadaan ini membuat curah jantung  meningkat  dan menimbulkan  vasodilatasi  pada pembuluh  – pembuluh darah  prekapiler  dalam sirkulasi mikro . Endotoksin menyebabkan  vasospasme  yang kuat pada vena – vena  kecil dan venula  karena pembuluh  – pembuluh darah  postkapiler  ini sangat sensitif  terhadap endotoksin. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG ,2001 )

Dengan adanya vasodilatasi  pembuluh darak  prekapiler  dan vasokonstriksi  pembuluh darah postkapiler  dalam sirkulasi mikro  , terjadilah pengumpulan  darah  pada vena. Keadaan ini menyebabkan  peningkatan tekanan  hidrostatik  dalam kapiler. Endotoksin juga dapat  menimbulkan kerusakan  pada dinding kapiler  yang menimbulkan  perembesan cairan dari ruangan  vaskuler  ke ruangan  ekstravaskuler. Keadaan mengurangi  volume darah yang beredar. Endotoksin  dan komponen  struktur kuman akan berinteraksi  dengan netrofil  , monosit , makrofag  dan sel endotel  sehingga menimbulkan respon tubuh  yang disebut  dengan SIRS.(Cunningham FG ,2001)

Endotoksin juga dapat merusak  sel – sel trombosit . Kerusakan  pada sel  trombosit  dan dinding kapiler  ( pembuluh darah ) serta adanya  anoksia umum  menimbulkan keadaan   yang memudahkan terjadinya DIC. Dengan terjadinya DIC  terbentuklah  gumpalan – gumpalan  darah dan trombin – trombin fibrin  dalam pembuluh darah, sehingga dapat  menyumbat  dan mengganggu  aliran darah  didalamnya. Dengan demikian  volume darah  yang mengalir  kembali  kejantung  berkurang. Selain terhadap pembuluh darah  endotoksin juga   berpengaruh terhadap jantung  yaitu menekan  kerja otot jantung  sehingga  otot jantung  menjadi lemah . Dalam keadaan  hipotensi ini pembuluh darah prekapiler dalam keadaan  vasodilatasi. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG , 2001 , Smith OH , 1997 )

Suhu penderita masih tinggi dan badannya terasa panas , pada keadaan ini penderita berada dalam stadium hipotensi  hangat ( warm hypotensive phase ). Dengan terjadinya hipotensi mulailah terjadi mekanisme  kompensasi seperti yang dijumpai pada hemoragik syok. Terjadi vasokonstriksi pada pembuluh darah , terjadi sympathetic squeezing  , agar terjamin  aliran darah ke organ –organ  vital. Karena adanya  vasokonstriksi pada pembuluh darah  tepi , badan penderita  menjadi dingin  dan suhu  menurun sampai  dibawah normal , keadaan ini penderita  berada  dalam stadium  hipotensi  dingin / cold hypotensive  phase.

Bila syok dalam stadium ini tidak diatasi dan endotoksemia tidak terkendali maka reaksi pembuluh pembuluh darah  sepenuhnya  dalam keadaan pengaruh  zat – zat vasodilator  yang disebabkan   oleh  jaringan  yang mengalami  kerusakan . Dengan  terjadinya  vasodilatasi  dalam sirkulasi  mikro , maka syok septik menjadi irreversible  dengan segala akibatnya. ( Prabowo RP , RP 1997 , Gabbe GS , 1996 , Cunningham FG 2001 )

 

 

Gambar : Patogenesa Syok sepsis

Sumber : Smith OH , in Te Linde Operative Gynecology 1996

 

 

GEJALA KLINIS

 

Syok sepsis pada pasien obstetri umumnya  dikaitkan  dengan 4 macam infeksi spesifik yaitu  abortus sepsis , pielonefritis akut , endometritis atau chorioamnionitis yang berat . Hanya 5 %  dari pasien infeksi diatas  yang berkembang  menjadi syok sepsis.

Syok sepsis menurut gejala klinis terbagi 2  fase yaitu ( Cunningham FG , 2001 )

  1. Fase reversible ( terdiri  dari early ( warm hypotensive phase ) dan late ( cold hypotensive phase ).
  2. Fase irreversible

Klinis dari warm hypotensive  phase berupa  hipotensi , suhu badan tinggi sampai 40 C , naiknya suhu badan sering disertai dengan  menggigil , tidak jarang penderita  mengeluarkan keringat , kulit teraba hangat , nadi agak cepat , penderita biasanya  dalam keadanan gelisah.

Bila penyakit berjalan  terus akibat vasokonstriksi yang luas , maka timbul  gejala dari cold hypotensive  phase berupa  hipotensi disertai  suhu badan  yang dibawah normal , penderita terlihat pucat , kulit teraba  dingin dan lembab , nadi menjadi  lebih cepat  terjadi oliguria atau anuria  , nafas cepat dan dalam  , curah jantung menurun. Jantung menjadi aritmia dengan tanda iskemia miokard dapat terjadi. Ikterik dapat terjadi sebagai tanda adanya hemolysis . Produksi urine akan berkurang bahkan dapat timbul suatu anuria.  Pada fase ini terdapat trias  yang khas yaitu  hipotensi , takikardi dan oliguria. ( Prabowo RP , 1997 , Cunningham FG , 2001)

Dalam syok sepsis yang irreversible  terjadi asidosis metabolik  berat karena  pada hipoksia seluler  dan metabolisme anaerob yang berlangsung terus , dalam darah ditemukan  penumpukan asam laktat , dalam stadium ini  mulai timbul gangguan fungsi  alat – alat vital  seperti paru – paru , ginjal , susunan saraf pusat dan sebagainya. Dapt juga timbul adanya endotel kapiler pulmoner   yang mengalami kerusakan  dengan kebocoran  kedalam  alveoli sehingga timbul  edema pulmoner  atau disebut  ADRS ( adult systress respiratory syndrome )   ( Cunningham FG , 2001 )

Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemui  leukositosis pada stasium awal , lekopeni pada stadium lanjut  , hemoglobin menurun  oleh karena adanya hemolisis. Fungsi pembekuan  seperti jumlah trombosit , kadar fibrinogen serum  ,  protrombin time , parsial tromboplastin time  umumnya tak normal. Kadar enzym transaminase   dan bilirubin sering meningkat. Peningkatan kadar  ureum darah dan kreatinin  darah mencerminkan   keadaan fungsi ginjal yang tidak normal. Enzim SGOT dan SGPT  meningkat juga .  Pemeriksaan radiologi  pada pasien dengan syok sepsis  dilakukan apakah terdapat suatu keadaan pnemonia . Sedangkan pemeriksaan  CT scan , MRI dan Ultrasound  akan dapat  berguna untuk  menentukan lokasi abses.  EKG diperlukan untuk monitoring  dan mendeteksi  adanya tanda aritmia  atau tanda iskemia. ( Prabowo RP , 1997 )

 

PENATALAKSANAAN

 

Prinsip umum  penatalaksanaan  syok sepsis adalah  menghilangkan infeksi dan mempertahankan  hemostasis  kardiovaskuler  dan respirasi. Terapi segera diberikan untuk mencegah  keadaan irreversible.

Bagi wanita dengan abortus septik, hasil konsepsi harus segera dikeluarkan melalui kuretase. Menurut Pritchart dan Whalley disamping para pakar lainnya histerektomi jarang dilakukan kecuali bila uterus sudah mengalami leserasi atau jelas infeksi berat. (CunninghamFG , 2001)

 

1. Perbaiki Ventilasi

Tindakan pertama terhadap pasien syok sepyik adalah pemberian oksigen serta pembebasan jalan napas, oksigen diberikan lewat masker untuk memperbaiki hipoksia jaringan yang tengah terjadi. Jika jalan napas tidak bebas atau pernapasan tidak adekuat, dapat dilakukan pemasangan intubasi endotrakea. (Rinaldi N ,1989)

Jika pemberian cairan yang agresif tidak segera diikuti oleh produksi urin sedikitnya sebanyak 30 cc dan sebaiknya 50 cc per jam, disamping tidak ditemukannya indikator lain yang menunjukkan perbaikan perfusi, maka kita harus memasang Central Venous Pressure (CVP).( Cunningham , FG 2001 )

 

2. Pemberian Antibiotika

Preparat antimikroba berspektrum luas dibariakn dalam dosis tinggi setelah pengambilan contoh yang tepat untuk pemeriksaan kultur. Pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan kultur darah bersama pemeriksaan spesimen eksudat yang tidak terkontaminasi oleh flora normal. Untuk pasien yang menglami abortus septik atau infeksi fasia yang dalam, pemeriksaan sediaan apus dengan pewarnaan gram mungkin dapat membantu mengetahui kuman penyebab infeksi. (Cunningham FG , 2001,Saifuddin AB 2000)

 

3. Kortikosteroid

Penggunaan kortikosteroid pada syok septik adalah untuk : menurunkan tingkat mediator kuman seperti hitamin dan serotonin dengan mencegah endotoxin-complement fixation dan kemudian mencegah produksi anaphylatoxin. Disamping itu juga merangsang glukoneogenesis dan mempunyai efek vasodilatasi dan menstabilkan membran lisosomal. (Cunningham FG, 2001)

 

4. Obat Penunjang

-          Diuretika dibarikan bila terdapat oliguria dan mencegah terjadinya acut tubuler necrosis yaitu dengan pemberian cairan manitol 20% 200 cc selama 20 menit atau furosemid 40 – 200 mg i.v. juga untuk mengurangi kelebihan cairan dan edema paru

-          Digitalisasi bila ada payah jantung

-          Pengobatan DIC. Bila terdapat level fibrinogen yang rendah, penurunan jumlah platelet dan peningkatan hasil degradasi fibrin, dipertimbangkan untuk pemberian heparin. Alternatif lain adalah Fresh Frozen Plasma atau Whole Blood . ( Dutta DC 1998 ,Cunningham, FG ,2001)

 

5. Koreksi asidosis

 

Pada syok dihasilkan asam laktat yang merupakan metabolisme anaerob dari glukosa. Asam laktat yang meninggi pada sepsis menyebabkan asidosis. Untuk mengtasi asidosis dapat diberikan sodium bikarbonat. Dosis pertama adalah 50 – 100 meq sodium bikarbonat dan dosis selanjutnya tergantung pada status klinis pasien dan hasil analisa gas darah. (Dutta DC, 1998)

 

Prognosis

            Pada umumnya prognosis syok septik buruk. Karena angka kematian syok ini sangat tinggi maka sangat perlu penggunaan antibiotiak untuk dapat mencegah terjadinay syok septik. kematian karena sepsis dan syok septik bervariasi tergantung kondisi dasar pasien, kuman penyebab, pemberian antibiotika dan komplikasi yang menyertai.( Gabbe GS ,1996)

-          Pasien dengan penyakit dasar yang berat seperti leukemia mempunyai prognosis yang jelek, pasien tanpa penyakit dasar mempunyai prognosis yang lebih baik.

-          End-organ failure merupakan penyebab kematian terbanyak.

 

 

 

BAB III

           KASUS

 

Identitas :

N a m a      :  Sri Suhartati

Umur          : 22 thn

Pekerjaan  : Mahasiswi

Alamat       : Parak Gadang no 15

Status        : Belum menikah

 

Seorang pasien wanita umur 22 tahun masuk  IGD tanggal 10-11-2001 jam 21.15 dengan :

Keluhan utama : Keluar darah dari kemaluan  sejak 1 minggu yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Keluar darah dari kemaluan sejak  1 hari yang lalu  , kemudian pergi berobat kebidan namun karena masih terjadi perdarahan kemudian pasien pergi berobat ke rumah sakit.

-          Pasien mengaku menikah  sejak 2 bulan yang lalu , kemudian pasien terlambat haid , HPHT tanggal 25 – 9 – 01 , kemudian oleh pasien dicoba diurut , menstruasi tidak keluar – keluar juga lalu dimasukkan  kayu oleh dukun sebanyak 2 kali , yang pertama satu minggu yang lalu , yang kedua  3 hari yang lalu.

-          Demam sejak 3 hari yang lalu , mual (+) , muntah (+)

-          Sesak nafas sejak 10 jam yang lalu

-          Buang air kecil normal.

Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah menderita  penyakit hati , paru ,

jantung , ginjal , hipertensi  , Diabetes Melitus.

Riwayat Penyakit Dahulu : tidak ada anggota keluarga menderita penyakit

keturunan , kejiwaan  , menular ,

Riwayat Perkawinan : 1 kali tahun 2001

Riwayat kehamilan : sekarang

PEMERIKSAAN FISIK :

Kesadaran : Komposmentis kooperatif

Keadaan umum : buruk

Tekanan darah : 90 / 60 mmhg

Nadi  : 115 x /menit

Suhu : 39,5 0 C

Pernafasan : 40 x/menit

Kulit                               :  sianosis ( – )

Kepala                          : tidak ada kelainan

Mata                              : Konjungtiva tak anemis, sklera tak ikterik

Telinga                          : tidak ada kelainan.

Leher                             : JVP 5 – 2 cmH2O, kel. Tyroid tidak membesar

Paru                              : Ronkhi ( – ),  Wheezing ( – )

Jantung                        : LVH, irama teratur, bising ( – )

Abdomen                     : status ginekologis

Genitalia                       : status ginekologis

Ekstremitas                  : edema +/+, Refleks Fisiologis +/+, Refleks

Patologis-/-

STATUS GINEKOLOGIS

 

Muka : Khloasma gravidarum (+)

Mamae : membesar , A/P hiperpigmentasi  , colostrum (+)

Abdomen : Inspeksi : tak nampak membuncit , Line mediana

Hiperpigmentasi , striae (-) , sikatrik (-) venectasi (-)

Palpasi : FUT tak teraba , massa (-) , nyeri tekan (+) , Nyeri

lepas (-) , Defans muskuler (-) .

Perkusi : Shifting dullness (-)

Auskultasi : tympani

Genetalia : Inspeksi vulva uretra tenang

Vagina : fluxus (+) , warna merah kehitaman  menumpuk di

forniks posterior , berbau busuk , laserasi (-) , tumor (-).

Porsio : Nulipara ukuran sebesar jempol kaki dewasa , tumor

(-), laserasi (-) , OUE terbuka 1 cm , fluxus (+) , warna

merah kehitaman , merembes sedikit dari kanalis

servikalis.

Pemeriksaan Dalam :

Vagina : tumor (-)

Porsio: Nulipara , ukuran sebesar jempol kaki dewasa ,

tumor (-),nyeri goyang (+)

Corpus uteri  : sebesar telur bebek , permukaan rata , konsistensi

Kenyal .

Adneksa parametrium : lemas kiri = kanan

Kavum Douglasi : tak menonjol , nyeri tekan (-).

Laboratorium : tgl 19 – 11-2001

Gula darah random : 88 mg %

HB : 8,3 gr %

Leukosit : 31.200/mm

Plano tes : (-)

Trombosit : 91.000/ mm3

Urinalisis : kimia : protein : +++

Reduksi : -

Sedimen : Leukosit : +

Eritrosit : ++

Silinder : -

Kristal : -

Epitel : gepeng

Bilirubin  :  -

Urobilin   : +

Diagnosa : G1P0A0H0 gravid 6-8 minggu + abortus infeksiosus e.c

abortus provokatus

Sikap : Perbaiki keadaan umum

Kontrol vital sign

Antibiotik

Rawat bangsal ginekologi

Rencana kuratage setelah 3 hari

Lapor konsulen advis : konsul penyakit dalam

 

Follow up tgl 20-11-01

Anamnesa : Keluar darah dari kemaluan sedikit – sedikit

Demam (-)

Perut kembung (+)

Pemeriksaan fisik :

Keadaan umum : Buruk

Kesadaran : komposmentis kooperatif

Tekanan darah : 90 / 60 mmhg

Nadi : 108 x/mnt

Nafas : 42x/mnt

Suhu  : 39C

Mata : konjungtiva anemis

Sklera tak ikterik

Leher : JVP 5 – 2 cmH2O , Kel getah bening tak membesar

Thorak : Cor dan Pulmo dalam batas normal

Abdomen : I : tak nampak membuncit

P : FUT tak teraba , Nyeri tekan (+) , Nyeri lepas (-) , Defans muskular (-)

Perkusi : timpani , meteorismus (+)

Auskultasi : bising usus (+) Normal

Genetalia : Inspeksi Vulva / uretra tenang

Kateter urine terpasang : urine 10 cc warna merah kehitaman

Diagnosa : G1 P0A0H0 Gravid 6-8 minggu + syok septik e.c Abortus

infeksiosus e.c abortus provokatus

Sikap :   tidur semifowler

Oksigen 4 liter /menit

Fortagyl 3 x 1

Gentamicyn 2 x 80 gr

Kalfoxim 2 x 1gram

Infus Nacl 28 tts / mnt

Metergin 3 x 1 amp

Periksa labor lengkap

Konsul penyakit dalam

Rencana : curettage setelah perbaikan keadaan umum

 

Hasil Konsul penyakit Dalam jam 11.30 WIB

Kesan  : Syok Sepsis  e.c abortus infeksiosus

Terapi  : Istirahat

Makanan lunak

Infus Na Cl tetesan cepat sampai tensi > 90 mmhg lalu lanjutkan

4 jam / kolf

Antibiotik sesuai TS

Kalmetason 4 x 20 mg iv

Anjuran : Periksa Bilirubin darah I ,II

Ureum , kreatinin

Faal hemostatis , PT , APT, PTT , CT , BT, Trombosit

 

Jam 13.00

Pasien apnoe

Pemeriksaan fisik :
Keadaan Umum : jelek

Kesadaran : Soporos komatus

Nadi   : tak teraba

Tekanan darah : tak teraba

Nafas : apnoe

Suhu : 38,5

Mata  :  konjungtiva  anemis , sklera ikterik

Pupil midriasis 4 mm / 4 mm

Reflek pupil  + / +

Leher : JVP 5 – 2 cm H20

Kelenjar tiroid tak membesar

Thoraks : Jantung dan paru tak terdengar

Gerak pernafasan tak ada

Abdomen : status ginekologis

Ekstremitas : RF + / +

RP – / -

Edema – / -

akral dingin

Laboratorium  tgl 20-11-01 jam 13.00

Hemoglobin 8,8 gr %

Lekosit : 10.200 / mm

Ureum : 112 mgr %

Kreatinin : 4, 20 mg%

Trombosit : 87.000/mm

SGOT : 76 u/ml

SGPT : 42 u/ml

Diagnosa : syok sepsis e.c abortus infeksiosus e.c abortus provokatus

Dilakukan  resusitasi kardiopulmonal dan intubasi

Jam 13.30 : pasien dinyatakan meninggal dihadapan petugas medis , paramedis , dan keluarga pasien.

 

 

 

 

 

 

 

Tabel Kontrol keadaan umum

 

 

 

Tanggal /

Jam

Suhu Nadi Nafas Tensi Urine Keterangan
19-11-01

22.00

 

 

 

 

 

22.15

22.30

 

 

 

 

22.45

23.00

23.15

23.30

23.45

24.00

 

20-11-01

00.15

01.00

01.30

 

02.00

 

02.15

 

 

02.30

03.00

03.15

03.30

04.00

04.15

04.30

04.45

 

 

 

05.30

05.45

06.00

06.15

06.30

06.45

07.00

07.15

07.30

07.45

08.00

08.30

09.00

09.30

10.00

10.30

11.00

11.30

12.00

12.30

13.00

 

13.15

 

13.30

39,5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

38

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

39,5

39,5

39,2

39,1

39,0

39,0

38,8

38,8

38,5

38,5

116

 

 

 

 

 

 

116

116

 

 

 

 

116

112

112

112

112

116

 

 

116

114

116

 

120

 

Cepat dan halus

120

116

116

116

112

112

112

112

 

 

 

108

108

108

108

108

108

108

112

108

108

107

112

114

112

110

112

114

112

116

120

Tak teraba

Tak teraba

Tak teraba

40

 

 

 

 

 

 

40

44

 

 

 

 

44

44

44

44

48

48

 

 

48

54

54

 

56

 

56

 

 

56

54

54

54

52

48

48

48

 

 

 

44

44

44

44

44

44

42

44

42

42

42

44

44

44

42

42

44

42

44

80 / 60

 

 

 

 

 

 

80 / 60

90 / 60

 

 

 

 

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

 

 

90 / 60

100 / 90

100 / 90

 

90 / 60

 

60 / pols

 

 

80 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

 

 

 

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

80 / 60

80 / 60

90 / 60

90 / 60

90 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

80 / 60

60 / pols

Tak teraba

Tak teraba

Tak teraba

30 cc kehitaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20 cc

Kehitaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 cc warna merah kehitaman

 

 

 

 

 

 

 

 

Infus RL guyur 1000 cc

Dexametason 2 amp

Oksigen 4 L / Menit

 

Elyzol 1 kolf

Cefotaxim 1 gr

Gentamicin 80 gr

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dexametason 2 amp

 

 

 

 

 

 

 

Pasien pindah ke ZGL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Plasmafusin

Nacl 0,9 %  guyur

 

Apnoe tiba-tiba

à RKP + Intubasi

 

Meninggal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

 

PEMBAHASAN

 

 

Pasien ini masuk Instalasi Gawat Darurat tgl  19 – 11 – 2001 ketika masuk  pasien mengaku  sudah menikah namun belakangan  diketahui bahwa pasien  bertatus belum menikah  , hal ini sesuai dengan literatur bahwa saat ini hubungan bebas diluar perkawinan  cenderung bertambah banyak yang mengakibatkan  kehamilan tidak diinginkan  dan pada akhirnya   akan melakukan  abortus dengan segala  akibatnya . Kehamilan diluar perkawinan   khususnya di Indonesia  dianggap sebagai  aib dan peristiwa yang memalukan  bagi keluarga , dan jika mereka datang   pada tenaga ahli   untuk menggugurkan   kandungan akan ditolak  karena alasan etik , moral ,  hukum , agama sehingga  mereka mencari  alternatif lain yang berakhir  dengan berbagai komplikasi. Penyebab utama  komplikasi  adalah  akibat manipulasi  pada alat  kandungan berupa  pijatan atau memasukan  benda asing  kedalam  rongga rahim  dalam kondisi tidak steril , dan pada  pasien ini abotus buatan dilakukan oleh tenaga tidak terlatih ( dukun ) dengan memasukan  benda asing  semacam kayu  kedalam rongga rahim sehingga menimbulkan komplikasi infeksi yang berlanjut  pada keadaan sespis.

Diagnosa abortus infeksiosus pada saat ini belum seragam dimana kriteria diagnosa  yang diajukan masih berbeda – beda   berdasarkan gambaran klinis. Kriteria minimal  yang diajukan adalah demam  lebih dari 38 C walaupun sangat bervariasi tergantung dari  perjalanan infeksinya , adanya tanda kehamilan  , tanda infeksi dari rongga  pelvis , nyeri tekan pada uterus dan adneksa , pengeluaran  sekret dari serviks yang purulen , berbau  dan  produk  konsepsi  yang terinfeksi  . (Dikutip dari Ichwan Z , 1999)

Pada  pasien ini adanya syok sepsis disebabkan  perjalanan penyakit akibat  adanya  abortus infeksiosus sehingga menimbulkan adanya bakteremia  mengakibatkan  adanya pelepasan endotoxin sehingga menimbulkan endotoxemia yang menimbulkan  pelepasan endorphin , katekolamin  , aktivasi komplemen kaskade  sehingga menimbulkan   kerusakan seluler , kerusakan mikrovaskuler yang menimbulkan  iskemia jaringan  , pelepasan histamin    yang menimbulkan  transudasi cairan intravaskuler  kedalam ruangan ekstravaskuler   , sehingga hal tersebut mengakibatkan  penurunan  volume sirkulasi darah yang  menimbulkan  penurunan venous return  , selanjutnya   penurunan  tekanan darah sistemik  dan  akibat lebih lanjut  menimbulkan  kerusakan  jaringan lebih lanjut sehingga timbul  asidosis  metabolik dan berlanjut menjadi  hipotensi   yang tak teratasi , multiple organ failure dan koma serta berakhir dengan kematian. ( Gabbe GS , 1996 )

Keluhan dan gejala klinis  pada permulaan  sepsis  sangat tidak spesifik  , pasien mengeluh menggigil , berkeringat , nafas pendek  , mual  , diare dan  sakit kepala. Pada pasien ini   sepsis didasarkan adanya gejala klinis suhu yang > 38C , leukosit 30.000/mm , frekuensi pernafasan  40 x/menit , frekuensi nadi 112 x/menit , hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa untuk pengenalan dini  bahwa pasien  telah masuk kedalam  keadaan septik dengan menggunakan  ciri kuantitatif  SIRS yaitu (Mabbie WC , 1996 ):

  1. Suhu badan > 380 C
  2. Frekuensi denyut jantung  > 90 x / menit
  3. Frekuensi pernafasan > 20 x / menit
  4. Hitung leukosit  > 12.000/mm3 , < 4000/mm3

Adanya multiple organ failure pada pasien ini berdasarkan produksi urine  sedikit  6 cc/ 1jam warna merah kehitaman , hasil laboratorium ureum ( 112 mgr %) dan  kreatinin ( 4,2 mgr %) yang  tinggi dari normal  merupakan tanda kerusakan pada ginjal . Kerusakan ginjal yang menetap pada abortus biasanya disebabkan oleh bermacam  efek dari infeksi , dimana endotoksin  dapat menyebabkan  kerusakan  ginjal bukan pada  epitel tubulus  tetapi pada membrane basalis rusak , epitel tidak  dapat mengadakan  regenerasi untuk membentuk fungsi nefron. (Smith OH , 1997 )

Kerusakan pada hepar ditandai dengan tingginya SGOT ( 76 u/ml)dan SGPT (42 u/ml) .Sehungga pada pasien ini sudah terjadi keadaan multiple organ failure.

Pada pasien ini monitoring  terhadap pasien kurang adekuat , mengingat sepsis  merupakan  penyebab mortalitas yang tinggi  dan harus diatasi  sebelum terjadinya keadaan yang lebih parah , monitoring yang tidak dilakukan pada pasien berupa pemeriksaan EKG , pemeriksaan rontgen , dan  laboratorium  seperti analisa gas darah , elektrolit  , kultur darah , urine .

Prognosis umumnya buruk , dengan multiple organ failure merupakan penyebab  kematian terbanyak. Penyebab kematian pada pasien ini adalah adanya muliple organ failure dan adanya hipotensi yang tidak dapat diatasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

 

  1. Kehamilan yang terjadi pada pasien ini akibat hubungan bebas diluar perkawinan .
  2. Penyebab abortus infeksiosus pada  pasien ini adalah adanya komplikasi infeksi  akibat abortus buatan yang dilakukan oleh tenaga tidak terlatih dengan memasukan benda kedalam rongga rahim dalam keadaan tidak steril.
  3.  Penyebab kematian pada pasien ini adalah adanya hipotensi yang tidak teratasi dan adanya multiple organ failure.

 

SARAN

 

  1. Perlunya pemberian informasi kepada masyarakat tentang bahaya komplikasi akibat abortus buatan yang dilakukan oleh tenaga tidak terlatih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.   Pramono A , Saputro HH : Karakteristik Abortus Infeksiosus :

Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia , April 15:2 ,. Bagian

Obstetri dan Ginekologi Fakutas kedokteran Universitas

Diponegoro  Semarang 1994 , hal 118-28.

2.   Prabowo RP : Syok dalam kebidanan , Ilmu Kebidanan , Yayasan

Bina Pustaka  Sarwono Prawirohardjo , Jakarta  , 1997 , hal 675 –

88.

3.  Smith  HO : Shock in Gynaecologic Patien in the Te Linde

Operative Gynecologic 8th ed, Lippincott Raven , Philadelphia –

New York , 1997, p 245-259.

  1. Saifuddin AB : Manajemen  kegawatdaruratan dalam Acuan Nasional  Pelayanan  Kesehatan Maternal dan Neonatal , Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo , Jakarta , 2000 , hal 72-77.
  2. Rinaldi N, Dachlan R : Syok dalam Anestesiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , Jakarta , 1989 , hal 172-81.
  3. Wiknjosastro GH : Abortus dalam ilmu Kebidanan , Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo , Jakarta , 1997 ,hal 110-18
  4. Arias MD , Early Pregnancy Loss Practical  Guide  to High  Pregnancy  and Delivery  2th edition , Mosby Year Book Company ST Louis 1993 p 55-70
  5. Ichwan Z , Tesis Kejadian Endometritis Pada Abortus Inkomplet selama 3 Bulan di RSUP Dr.M.Djamil Padang 1 Juni 1999 – 31 Agustus 1999. Laboratorium / SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNAND Padang 1999.
  6. Mabie WC : Septic Shock in  Obstetrics  Normal  and Problem Pregnancies  , Churchill Livingstone , New York , 1996 , p 550-52
  7. Dutta DC : Shick in Obstetrics , Text Book of Obstetrics , 4th edition , New India Central Book Agency ( P) LTD , 1998, P 655 – 62.
  8. Smith OH , Shock in Gynecology  Patient , in TeLinde Operative Gynecology , eight edition , Lippincott Raver , 1997 , p 245 – 62.
  9. Howard FJ :Family Planning in Novaks Textbook of Gynecology 12th edition , William & Wilkins , Baltimore , Maryland , 1996 , p 264-9
  10. Cunningham FG , Critical Care and Trauma , Williams Obstetrics , 21th edition , Prentice Hall International  , 2001 , p 1059-78
  11. Gabbe GS , Maternal  and Perinatal  Infection obstetrics  normal and  Problems Pregnancy , 3rd edition  , Churchill LivingstoneInc , 1996 , p 1193-1247.
  12. Stovall GT , Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy Novaks Textbook of Gynecology 12th edition , William & Wilkins , Baltimore , Maryland , 1996 , p 487-502

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s